Pada kasus-kasus tersebut, problem familial/keluarga mendominasi di atas semata-mata problem personal/pribadi atau pun problem relasi pertemanan. Tema-tema masalah yang sering muncul dalam layanan SEJIWA yang berasosiasi dengan pemikiran bunuh diri adalah mencakup masalah ekonomi akibat PHK, masalah kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan pasangan, kesepian dalam keluarga, merasa tidak dipahami/dicintai/diterima oleh anggota keluarga lainnya. Memang ada masalah yang muncul sejak pandemi, namun tidak sedikit masalah-masalah ini sudah ada sebelum pandemi dan diperparah oleh pandemi.
Dia menjelaskan masyarakat sendiri sebenarnya tidak ingin membiarkan frustrasi tersebut berkepanjangan. Masyarakat Indonesia mulai memantapkan efikasi (rasa mampu diri) dan kecakapan untuk melaksanakan prokes dengan kesadaran; agar pembatasan tidak berkepanjangan dan semakin menciutkan kehidupan mereka. Kita dapat melihat, misalnya, masyarakat sudah mulai berani mengingatkan atau menegur sesamanya yang melanggar prokes, baik langsung maupun tidak langsung (dengan membuat video pelanggaran prokes di lingkungan terdekat mereka dan memviralkan agar menjadi perhatian yang lebih luas, dan biasanya langsung ditindaklanjuti oleh satgas atau aparat). Hal ini menandakan sudah terbentuknya keterampilan dan mekanisme budaya di dalam masyarakat untuk melindungi komunitas masing-masing dari bahaya virus Covid-19.
Di samping kehidupan offline, masyarakat saat ini sudah semakin mengakrabi kehidupan online. Hanya saja, dengan hadirnya kehidupan online yang semakin masif dan intensif di era pandemi, kurangnya keterampilan mengelola kehidupan online menjadi masalah baru yang mengemuka. Pengelolaan kehidupan online saat ini berperan besar pada pengelolaan kehidupan umum. Mengapa? karena kehidupan telah didominasi oleh kegiatan online, termasuk dalam hal mengelola jam kerja, belajar, istirahat, bermain, bercinta, dan mengelola informasi online. Gagalnya manajemen yang berimbang terhadap hal-hal ini turut berdampak pada kesehatan mental.
(Susi Susanti)