Wacana Dosen Asing Jadi Mimpi Wujudkan "Harvard University" di Indonesia

Feby Novalius, Jurnalis
Rabu 07 Agustus 2019 12:38 WIB
Havard University (Foto: Web Havard)
Share :

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memfokuskan pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas kedua dari lima target pemerintah dalam lima tahun ke depan. Riset dan pendidikan tinggi menjadi pilar unggulan yang harus digerakkan dalam mewujudkan visi pemerintah ini.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Budi Wiweko mengatakan, salah satu pemikiran pemerintah dalam membangun kualitas perguruan tinggi di Indonesia adalah wacana mendatangkan rektor asing untuk memimpin perubahan yang diharapkan mampu membawa Indonesia ke kancah bergengsi dunia dalam hal peringkat perguruan tinggi.

Namun, kata dia, timbul pertanyaan, yang muncul di benak para dosen dan pimpinan perguruan tinggi di Indonesia adalah apakah tidak ada lagi sumber daya manusia berkualitas di Indonesia yang bisa menjadi rektor?

Baca Juga: Wacana Dosen Asing, Menko Puan: Semangatnya Universitas Bisa Lebih Baik

“Tidaklah mengherankan bila kemudian banyak bermunculan silang pendapat, pro–kontra, mendukung dan tidak mendukung terhadap rencana pemerintah yang masuk dalam kategori inovasi disruptif ini?” tanyanya, di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Sebenarnya, fenomena menarik tentang digunakannya dosen asing bisa kita lihat ke negara tetangga kita, Singapura. Di mana dua perguruan tinggi, National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technology University (NTU), sama-sama menduduki peringkat ke-11 dunia menurut QS ranking tahun 2020.

Negeri berpenduduk berpenduduk 5,6 juta jiwa itu sadar sekali pentingnya akselerasi dalam alih ilmu pengetahuan dan teknologi. Singapura tidak segan–segan merekrut tenaga peneliti asing bereputasi dunia untuk memimpin laboratorium riset dan inovasi di perguruan tinggi mereka.

“Tentu hal ini membutuhkan skema pendanaan besar yang perlu mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Kita bisa melihat bagaimana rekam jejak peneliti bereputasi dunia yang membangun dunia riset dan pendidikan tinggi di Singapura, umumnya mereka pemimpin lembaga riset di negara Eropa, sebagian masih aktif, sebagian lagi sudah hampir memasuki masa pensiun,” ujarnya.

Baca Juga: 2020, Rektor Asing Bakal Ngajar di Perguruan Tinggi Indonesia

Langkah serupa diikuti Brunei Darussalam. Negeri petro dolar ini aktif mendatangkan para peneliti asing bereputasi dunia ke Universiti Brunei Darussalam (UBD), sebagian mereka mendapatkannya dari NUS, mengingat hubungan mereka yang erat dalam commonwealth system. Skema ini cukup sukses mengaktifkan geliat dunia riset dan perguruan tinggi di Brunei sehingga tidaklah mengherankan saat ini UBD sudah bercokol di peringkat 298 dunia, hanya selisih dua peringkat dengan Universitas Indonesia (UI) sebagai perguruan tinggi dengan peringkat terbaik di dunia.

Sementara itu Universiti Teknologi Brunei saat ini sudah menduduki peringkat 379 dunia, terbayang tentu bagaimana Brunei memainkan strategi yang hampir sama dengan Singapura.

Penentuan peringkat perguruan tinggi dunia dilakukan berdasarkan skor reputasi para dosen, skor reputasi para karyawan, rasio dosen terhadap mahasiswa, indeks sitasi dosen (menerangkan berapa banyak jurnal internasional per dosen yang di-sitasi oleh jurnal internasional lain), jumlah dosen asing, serta jumlah mahasiswa asing di perguruan tinggi tersebut.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya