“Pertanian yang visioner itu adalah bagaimana melihat peluang dari setiap tantangan demi terciptanya ekosistem bisnis pertanian yang berkelanjutan, seperti bagaimana kita harus bisa bertani di lahan sempit, bertani di daerah perkotaan, dan bertani tanpa tanaman seperti halnya menciptakan daging tanpa berternak melainkan melalui pengembangan bakteri. Hal itu bukan mustahil tercipta dan diproduksi masal di masa depan," ujar dia dalam keterangannya, Selasa, (25/6/2019).
"Terakhir adalah bagaimana mengintegrasikan setiap stakeholder yang terlibat dalam pembangunan pertanian," sambung dia.
Baca Juga: Universitas Brawijaya Sabet Akreditas A dari BAN-PT
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani menambahkan, Indonesia harus memiliki visi pertanian yang terarah dan jelas serta menjawab tantangan perubahan zaman. Di masa depan Indonesia sudah harus menjadi lumbung yang siap untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia.
”Konsekuensinya kita harus siap meningkatkan daya saing produk. Faktor utama yaitu meningkatkan keunggulan SDM sektor pertanian. Kita harus mampu menciptakan agropreneur muda yang handal dalam manajerial bisnis, penguasaan teknologi dan pemasaran serta memiliki pemikiran yang kreatif, rasional dan visioner,” tutupnya.
(Rani Hardjanti)