Kisah Hidup Willem Iskander, Pionir Pendidikan dari Sumatera Utara

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis
Senin 30 Oktober 2017 14:54 WIB
Willem Iskandar. (Foto: Ist/Sindonews)
Share :

Pertemuan Willem Iskander selama tiga hari dengan Inspektur Pendidikan Bumiputera Mr JA Van der Chijs di Tanobato telah membuahkan banyak hasil. Gagasan Willem Iskander agar pemerintah memberikan beasiswa kepada guru-guru muda untuk belajar di Negeri Belanda, menjadi pemikiran pemerintah pusat.

Budayawan Basyral Harahap mengungkapkan, ada peristiwa yang luar biasa ketika Willem Iskander melaksanakan EBTA pada bulan Juni 1871. Pelaksanaan ujian itu sangat istimewa karena dihadiri petinggi pemerintah kala itu, Gubernur Pantai Barat Sumatera, Residen Tapanuli, Asisten Residen Mandailing-Angkola dan Kontrolir wilayah itu.

Ujian dimulai dengan menyuruh murid-murid menulis esai, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang ilmu alam, lembaga-lembaga pemerintahan Hindia Belanda. Kemampuan berbahasa Belanda dan bahasa Melayu diuji dengan cara membaca dan berbicara. Ujian berhitung dilakukan dengan menjawab soal-soal dengan menulis pada batu tulis dan papan tulis.

Usai melakukan inspeksi itu, Gubernur menyampaikan kepuasannya kepada Willem Iskander
terhadap kemampuan murid-murid Willem Iskander berbahasa Belanda. Gubernur mengharapkan agar Willem Iskander lebih meningkatkan lagi mutu pendidikan di sekolah ini.

Pada kesempatan lain setelah inspeksi itu, Asisten Residen Mandailing Angkola nengunjungi sekolah ini yang kemudian diikuti pejabat-pejabat lain. Para pejabat itu berdialog dengan murid-murid sambil mengajukan berbagai pertanyaan. Para murid memberikan jawaban atau penjelasan secara memuaskan (Verslag, 1871:56-57).

Willem Iskander bukan hanya seorang guru sekolah guru, tetapi ia juga seorang pengarang, penerjemah dan penyadur. Ia telah menghasilkan sejumlah karya. Di antaranya buku Si Hendrik na Denggan Roa. Buku ini merupakan terjemahan dari De Brave Hendrik, buku bacaan anak-anak yang paling popular di Belanda pada masa itu. Terjemahan ini diterbitkan di Padang pada tahun 1865. Isi buku tentang etika untuk anak-anak dalam pergaulan sehari-hari.

Kemudian, buku Barita na marragam. Bacaan anak-anak tentang budi pekerti, merupakan saduran dari karya JRPF Gongrijp. Diterbitkan di Batavia pada tahun 1868 dalam bahasa Mandailing aksara Latin. Ada juga buku basaon, buku bacaan anak-anak terjemahan dalam bahasa Mandailing dari karya W.C. Thurn. Batavia, 1871 cetak ulang 1884.

Selain itu, buku Si Boeloes Boeloes Si Roemboek-Roemboek: Boekoe Basaon. Naskah Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk sudah sampai di Batavia pada tahun 1870. Pemerintah pusat mengeluarkan beslit (besluit), surat keputusan, Nomor 27 bertarikh 23 Februari 1871 tentang penerbitan buku ini yang menetapkan tiras buku ini 3.015 dan sebanyak 50 eksemplar harus disimpan di perpustakaan.

Pada tahun 1872 kumpulan prosa dan puisi ini diterbitkan di Batavia oleh ‘s Landsdrukkerij (Percetakan Negara) pada tahun 1872. Buku ini dicetak ulang di Batavia pada tahun 1903, 1906, dan 1915. Kemudian sesudah merdeka diterbitkan kembali oleh beberapa penerbit.

Budayawan Basyral Harahap juga menyebutkan, ada sebagian murid-murid Willem Iskander yang mengikuti jejaknya sebagai pengarang, penerjemah dan penyadur. Di antaranya Ja Lembang Gunung Doli, Soerat Parsipodaan, Batavia, 1889. Ja Manambin, Si Djahidin, Batavia, 1883. Ja Parlindungan, Kitab Pengadjaran, Batavia, 1883.

Selain itu, Ja Sian, Sutan Kulipa dan Ja Rendo, Mandhelingsche rekenboekje voor hoogste klasse, Batavia, 1868. Mangaraja Gunung Pandapotan, On ma sada parsipodaan toe parbinotoan taporan parsapoeloean, Batavia, 1885. Mangaraja Gunung Pandapotan, Parsipodaan taringot toe parbinotoan tano on, Batavia, 1884. Dan masih banyak lagi muridnya yang meneruskan jejaknya.

Sejarawan asal Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari pernah juga angkat bicara mengenai Willem Iskandar. Kata Ichwan Azhari, sebelum Taman Siswa didirikan Ki Hadjar Dewantara, Willem Iskander telah mendirikan sekolah guru pertama di Tanobato.

Jika dikaji lebih mendalam, Willem merupakan tokoh yang lebih dahulu berjasa terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Dia berharap pemerintah tidak melupakan jasa tokoh pendidikan asal Mandailing itu.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya