Menengok Sejarah Kebangkitan Nasional

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis
Jum'at 20 Mei 2016 06:37 WIB
Diorama sekolah kedokteran STOVIA di Museum Kebangkitan Nasional. (Foto: Iradhatie W/Okezone)
Share :

Pendirian Boedi Oetomo mendapat respons positif dari pelajar STOVIA dan pelajar dari daerah lain sehingga dalam waktu singkat jumlah anggotanya terus bertambah. Bahkan, pesatnya pertumbuhan Boedi Oetomo sempat membuat sang ketua, Soetomo hampir dikeluarkan dari sekolah. Bersamaan dengan rapat dewan pengajar STOVIA yang membahas nasib Soetomo, para anggota dan pelajar lainnya mengadakan aksi solidaritas di depan ruang pengajar.

"Mereka sempat mengancam akan ikut keluar jika Soetomo dikeluarkan dari STOVIA. Beruntung, Direktur STOVIA, Dokter H.F Roll cukup bijak lantaran menilai pendirian Boedi Oetomo merupakan suatu hal yang wajar sebagai bentuk gejolak jiwa muda yang penuh semangat dan ide-ide baru," tuturnya.

Lahirnya Boedi Oetomo kemudian menginspirasi pergerakan timbulnya gerakan pemuda lainnya, seperti Sarekat Dagang Islam dan Muhammadiyah. Soeradji mengungkapkan, hal tersebut membuktikan bahwa pendidikan mampu mempersatukan para pemuda sehingga menjadi kaum intelektual yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

"Pada 1915 lahir pula Tri Koro Dharmo, yang pada 1917 berubah menjadi Jong Java atau pemuda Jawa. Lalu terbentuk pula Jong Sumatera dan lainnya. Mereka berkumpul tujuannya untuk solidaritas dan kebudayaan, bukan untuk politik. Kesatuan terbentuknya di sekolah," sebutnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya