SEMARANG - Seorang guru muda di Semarang, Jawa Tengah terpilih menjadi duta budaya ke Australia karena perannya mengembangkan nasi jagung instan. Dia bertekad mengenalkan jenis kuliner itu dan seni budaya Tanah Air ke Negeri Kanguru.
Nasi jagung selama ini menjadi kuliner khas masyarakat Jawa Tengah. Apalagi, wilayah tersebut dikenal sebagai sentra penghasil jagung yang berkualitas. Namun, pembuatan nasi jagung yang cukup rumit dan memakan waktu, membuat warga berangsur meninggalkan jenis kuliner itu.
Hal itulah yang mendorong seorang guru bernama Oscar Yustino Carascalao, untuk mengembangkan nasi jagung instan. Dia memberdayakan masyarakat Grobogan di kampung halamannya, untuk menjadikan nasi jagung mudah dimasak dengan waktu singkat, namun tetap memiliki cita rasa istimewa.
“Nasi jagung ini kan istimewa karena cocok bagi penderita diabetes, kadar gulanya rendah dibanding nasi dari beras padi. Makanya kami mengembangkan nasi jagung instan ini bersama ibu-ibu di sini,” ujar Oscar kepada Okezone, Senin (1/ 5/2016).
Pembuatan nasi jagung instan prosesnya cukup rumit yakni pertama jagung direndam dalam air selama tiga hari. Kemudian jagung ditumbuk manual untuk melepas kulit arinya, lalu digiling menggunakan mesin. Setelah itu, jagung halus dimasak seperti menanak nasi.
“Langkah selanjutnya adalah siram air ke jagung halus yang telah dimasak dan jemur hingga kering. Baru kemudian bubuk jagung matang itu dikemas dalam plastik kedap udara agar terjaga kebersihannya. Bila ingin disajikan, nasi jagung instan itu tinggal ditanak selama 10 menit dan masakan tersebut siap dihidangkan,” bebernya.
Gagasan tersebut rupanya menarik perhatian juri, saat Oscar mengikuti seleksi Australia Indonesia Youth Exchange Program atau Pertukaran Pemuda Antarnegara 2016. Dia adalah satu-satu peserta yang lolos setelah menyingkirkan puluhan peserta lain dari Jawa Tengah.
“Dalam seleksi tersebut saya mewakili Kabupaten Grobogan dalam proses seleksi yang diselenggarakan pada bulan April. Kemudian setelah melalui proses seleksi administrasi, dipilih 20 besar. Kemudian pada tanggal 14 April diadakan seleksi untuk diambil 15 besar. Pada proses itu saya lolos dalam 15 besar sehingga berhak maju pada tahap berikutnya, yakni Focus Group Discussion,” terangnya.
Oscar kemudian mengikuti tes selanjutnya untuk menentukan lima besar. Tahap selanjutnya adalah tes wawancara yang terfokus pada kesiapan diri, kesesuaian program, Bahasa Inggris, pengetahuan umum, kontribusi sosial dan tes minat dan bakat. Pada tes tersebut hanya dibutuhkan satu orang yang terpilih menjadi delegasi.
“Dan saya terpilih sebagai peringkat pertama sehingga berhak menjadi delegasi. Tentunya saya merasa bangga atas pencapaian ini. Namun, bagi saya ini adalah awal untuk melangkah lebih jauh. Saya berharap dapat berkontribusi secara maksimal dalam program tersebut. Kesempatan ini akan saya manfaatkan untuk mengembangkan diri, mengingat Australia adalah salah satu negara yang bahasa ibunya adalah Bahasa Inggris,” ujarnya.
Perjuangan anak pertama dari tiga bersaudara itu untuk memberdayakan masyarakat mengembangkan nasi jagung instan tak semudah membalik telapak tangan. Dia yang sehari-hari mengajar Bahasa Inggris di SMA Krista Mitra Semarang itu harus bolak-balik Semarang-Grobogan. Kendati demikian, perjuangannya itu berbuah manis karena pihak sekolah juga mendukungnya menjadi duta budaya ke Australia selama tiga bulan.
“Kami dari pihak sekolah memberi dukungan penuh kepada guru-guru berprestasi seperti Pak Oscar ini. Kami memberi kesempatan beliau untuk mengikuti tes seleksi, dan kami sesuaikan jadwal mengajarnya. Selama nanti beliau di Australia, kami juga siapkan guru pengganti,” terang Wakil Kepala SMA Krista Mitra, Filisia Tristiani.
(Risna Nur Rahayu)