JAKARTA - Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia adalah berdasarkan kurikulum nasional. Saat ini, terdapat dua kurikulum yang diterapkan, yakni kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006 dan Kurikulum 2013.
Pada praktiknya, tidak semua daerah di Tanah Air mampu menjalankan kurikulum nasional dengan baik. Di daerah Pegunungan Tengah Papua misalnya, baik siswa dan guru sering kesulitan dalam melakukan proses belajar mengajar lantaran sarana yang terbatas, termasuk sumber daya manusia (SDM) di sana. Melihat hal tersebut Wahana Visi Indonesia (WVI) merancang model pendidikan kontekstual berbasis kearifan lokal.
"Pendidikan Nusantara merupakan model pendidikan kontekstual. Nah, pendidikan kontekstual adalah model pembelajaran yang menempatkan hubungan antara materi pembelajaran dengan realitas kehidupan peserta didik sehari-hari," tutur Education Specialist WVI, Nurman Siagian di Gedung 33, Jakarta, Kamis (28/4/2016).
Nurman menjelaskan, pendidikan kontekstual dikembangkan bersama masyarakat dan mitra di daerah binaan WVI. Meski menggunakan bahasa lokal dan modul berbeda, materinya tetap disesuaikan dengan kurikulum nasional yang sudah ditetapkan pemerintah.
"Jadi model ini dikembangkan dengan alam, lingkungan, karakteristik anak, budaya, dan agama setempat. Kemudian dibuat modul sederhana yang berisi berbagai kegiatan sebagai turunan dari silabus. Para guru didampingi membuat skenario suatu kegiatan pembelajaran," ujarnya.