JAKARTA – Sebagai bagian terakhir dari rangkaian Japanese Seminar Series, Universitas Budi Luhur (UBL) menghadirkan CEO PT Panasonic Manufacturing Indonesia, Mr Ichiro Suganuma, pada Sabtu 24 Oktober 2015. Acara ini sendiri coba memberikan bekal bagi mahasiswa bagaimana menjadi seorang entrepreneur andal.
Seminar ini dibuka oleh Ratnaningsih MBA selaku dekan Fakultas Ekonomi Universitas Budi Luhur. Terdapat sebanyak 250 mahasiswa dan para sesepuh Universitas Budi Luhur yang menghadiri seminar ini. Ratusan mahasiswa antusias mendapatkan ide untuk menjadi seorang entrepreneur.
Mr Suganuma menyampaikan, untuk menjadi seorang entrepreneur, butuh perjuangan keras dan semangat yang tinggi. Karena itu, para sarjana baru maupun profesional muda perlu memiliki potensi dan skill untuk menjadi seorang entrepreneur atau pengusaha formal yang tangguh serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Misalnya saja ketika PT Panasonic mulai go public di Indonesia.
"Kerjasama PT Panasonic dan PT Gobel memiliki sejarah dan kenangan yang sangat indah dengan bangsa Indonesia. Semua ini tidak terlepas dari peran para entrepreneur muda," katanya.
Ia menuturkan, PT Transistor Radio Manufacturing yang didirikan pada 1954 oleh Thayeb Mohammad Gobel merupakan pabrik radio transistor pertama di Indonesia. Setelah Gobel bertemu Konosuke Matsushita, pendiri PT Panasonic Electric Industrial Co Ltd, dan menyepakati kerjasama, Panasonic–Gobel pada 1962 juga menghasilkan televisi hitam putih pertama di Indonesia.
"Televisi itu kemudian diserahkan kepada Ibu Negara Indonesia Fatmawati Soekarno," ujarnya.
Di depan mahasiswa UBL, dia mengutarakan kerjasama kedua bangsa tetap berjalan dengan harmonis. Seolah tak mau mengakhiri kebersamaan yang indah bersama sejarah Indonesia ini. Sampai hari ini pihaknya mendukung usaha memopulerkan indahnya kemegahan Candi Prambanan sebagai warisan budaya dunia dengan memberikan pencahayaan LED.
Dalam materi pokok seminar tersebut, Mr Suganuma menyampaikan judul 'Hitozukuri for Monozukuri' atau 'Make People before Product' yang berarti menciptakan manusia sebelum menciptakan barang. Ini sebagai prinsip manajemen yang digunakan perusahaannya.
"Hitozukuri atau menciptakan manusia dilakukan dengan membentuk pola pikir dan mengubah perilaku, membangun kapasitas kerja, membangun komitmen terhadap standart yang diminta. Bila sudah terbentuk, otomatis manusia tersebut akan menciptakan kebanggaan, keterampilan dan dedikasi dalam bekerja," katanya.
Pada akhir seminar, Mr Suganuma menyerahkan secara simbolis buku filsafat manajemen praktis Konosuke Matsushita kepada seluruh mahasiswa.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))