JAKARTA - Kelompok Swadaya Masyarakat Nyiur yang merupakan binaan Universitas Budi Luhur (UBL) Jakarta membentuk Kampung Wisata Petani Sampah di Kelurahan Kamal, Jakarta.
Ketua Program Studi Arsitektur, Putri Suryandari mengatakan, pihaknya sudah merancang konsep program pembenahan yang diberi nama Green Kamal Project atau Kampung wisata petani sampah.
"Kenapa kami membuat kampung wisata petani sampah. Karena informasi yang kita peroleh bahwa potensi terbesar adalah sampah. Artinya, masyarakat belum pandai mengolah namun cukup pandai menghasilkan sampah,” kata Putri Suryandari, Minggu (28/9/2015).
Putri mengatakan, pihaknya akan mengajak warga RW 03 dan 04 Kelurahan Kamal untuk menjadi petani sampah sehingga sampah yang tadinya tidak berguna menjadi bermanfaat dan cantik.
“Kami berusaha mencoba, warga di sini menjadi wiraswasta penghasil sampah dan pemasok sampah. Jadi, sasaran kita kampung ini menjadi tujuan wisata yang isinya menghasilkan produk–produk dari sampah yang diperjualbelikan dalam wisata lokal maupun internasional,” ujar Putri.
Putri mengungkapkan, warga akan mendapat pelatihan dari perwakilan Kagoshima University Jepang untuk mengolah sampah daun menjadi barang yang dapat dijual. Bahkan, Kagoshima juga akan membeli produk sampah yang dihasilkan oleh warga Kamal untuk dipasarkan di Jepang.
“Jadi, kampung wisata sampah artinya kampung ini akan disulap menjadi tujuan wisata yang produksi sampahnya menjadi sesuatu yang dapat dijual. Jadi, wisatawan yang berkunjung ke Jakarta yang ingin membeli produk dari sampah, dari bandara Soekarno Hatta dapat berkunjung ke Kamal,” kata Putri.
Suwasti Broto, selaku Kepala Sub Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Budi Luhur menambahkan, program ini membuka kesempatan bagi seluruh dosen dan mahasiswa di Universitas Budi Luhur maupun mitra kampus untuk berperan serta dalam projek pengabdian kepada masyarakat peduli Kamal.
Asisten Pembangunan Jakarta Barat, Yunus Burhan mengungkapkan, Kelurahan Kamal dan Tegal Alur sejak tahun 1995 silam telah masuk dalam program Inpres Desa Tertinggal (IDT). Sebelumnya, sudah ada gerakan bedah rumah untuk beberapa rumah di lingkungan ini yang merupakan bantuan dari CSR.
Ada juga beberapa Tanki penampungan air yang juga bantuan dari CSR untuk membantu kesulitan air di sini. Sehingga pihaknya sangat terbuka bagi bantuan untuk masyarakat dalam mengatasi kekumuhan di wilayah ini.
"Seluruh aparat kami akan membantu program-program yang bermanfaat bagi masyarakat," katanya.
Prof Kozo Obara dari Kagoshima University mengatakan, kesuksesan program ini sangat tergantung pada kerjasama dari segala pihak.
"Kekompakan sangat penting. Karena mimpi yang besar tidak bisa dilaksanakan sendiri," katanya.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))