JAKARTA - Sejumlah kalangan sepakat Indonesia akan menjadi negara maju. Hal itu salah satunya karena Indonesia menumbuhkan jumlah pengusaha minimal 2 persen dari total penduduk yang ada.
Oleh karena itu, perlu konsentrasi untuk mencapai angka tersebut. Salah satu langkahnya adalah dengan menumbuhkan semangat kewirausahaan pada generasi baru, yaitu seperti di kalangan siswa dan mahasiswa.
Namun, menurut salah satu tokoh entrepreneur Indonesia, Budi Satri Isman, sebenarnya Indonesia sudah mempunyai wirausaha yang banyak. Tapi, hanya sekira 0,28 persen yang masuk ke usaha kecil, menengah, dan besar.
Mengapa hal ini terjadi? Menurut teman dekat (alm) Bob Sadino ini karena sebenarnya pengusaha itu terdiri dari tiga jenis.
“Sebenarnya ada tiga jenis pengusaha itu. Pertama, pengusaha yang dilahirkan; kedua, pengusaha yang terpaksa alias memakai jurus kepepet; dan ketiga, pengusaha yang dididik,” ujar Budi, seperti keterangan tertulis yang diterima Okezone, Kamis (29/1/2015).
Pengusaha suskes yang juga menulis buku berjudul 7 Steps to Reach Your Dream itu melanjutkan, di antara tiga jenis tersebut maka yang perlu dan sedang dibangun adalah tipe yang ketiga, yakni pengusaha yang dididik.
Kepada peserta talkshow Smartpreneur yang diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dosen, dan kalangan umum itu, pelatih bisnis yang mendirikan yayasan Pro-Indonesia tersebut juga menjelaskan mengapa seseorang harus berwirausaha.
Budi mengatakan, paling tidak ada beberapa alasan, yakni karena Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha, sebagai salah satu pilihan hidup, dan pengusaha biasanya identik dengan kebebasan.
"Alasan lainnya yaitu tidak bisa dipecat bahkan bisa langsung jadi bos atau direktur utama. Menjadi pengusaha juga bisa menciptakan lapangan kerja dan sekaligus bisa mensejahterakan masyarakat,” ucapnya.
Kemudian, Wakil Rektor Universitas Trilogi Bidang Akademik, Dr Aam Bastaman, menjelaskan bahwa acara ini sengaja dirancang untuk menggugah semangat bersama.
"Terutama bagi para pemuda, yaitu siswa dan mahasiswa untuk mengembangkan jiwa teknopreneur-nya. Ini juga sesuai salah dari ‘trilogi’ kampus ini, yaitu teknopreneur," ungkap Aam. (fsl)
(Rani Hardjanti)