Menurut Wasis, karya tersebut merupakan inovasi tepat guna bagi masyarakat. Sebab bisa membantu industri pembuat plastik serta mampu didaur ulang secara terus menerus. Berbeda dengan perahu berbahan fiber glass yang meski ringan hanya mampu digunakan sekali pakai.
"Yang cukup lama dari proses ini adalah membuat cetakannya. Perahu dibuat melalui sebuah cetakan yang sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari panjang, lebar, dan tinggi kapal semuanya sudah ditentukan terlebih dahulu lewat pembuatan cetakannya. Pembuatan cetakannya bisa menghabiskan waktu selama seminggu. Namun untuk produksi kapal, per harinya bisa sampai mencapai enam buah kapal," jelas Wasis.
Perahu buatan kampus ITS itu juga sudah dikirim ke Bojonegoro untuk persiapan menghadapi banjir dari sungai Bengawan Solo. Ke depan, ujar Wasis, mereka akan melakukan pengembangan terhadap kapal tersebut.
''Sudah kami kirim beberapa ke sana. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Ke depan, kami akan mencoba membuat perahu yang memiliki ukuran hingga 10 meter," tuturnya.
(Margaret Puspitarini)