PROFIL dan pendidikan Andrea Bocelli menarik diulas. Sebab, penyanyi tenor legendaris asal Italia itu menjadi sorotan setelah rencana konsernya di Indonesia dan Yordania menuai penolakan dari sejumlah kelompok pro-Palestina.
Seruan boikot muncul karena rekam jejak penampilannya di Israel serta keterlibatannya dalam acara penggalangan dana yang berkaitan dengan militer Israel. Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana konser Bocelli dan mendesak pemerintah membatalkan agenda tersebut.

Sementara itu, kelompok pro-Palestina di Yordania menyerukan boikot konsernya yang dijadwalkan berlangsung di Petra pada November 2026. Di tengah polemik tersebut, Bocelli tetap dikenal luas sebagai salah satu penyanyi tenor klasik paling sukses di dunia. Ia telah berkarier selama lebih dari tiga dekade dan dikenal melalui perpaduan musik opera, klasik, dan pop.
Lantas, seperti apa profil, riwayat pendidikan, dan perjalanan karier Andrea Bocelli? Simak ulasannya dalam artikel ini.
Andrea Bocelli lahir pada 22 September 1958 di Lajatico, Tuscany, Italia. Ia dikenal sebagai penyanyi tenor yang memiliki karakter suara khas dan berhasil memperkenalkan musik klasik kepada khalayak yang lebih luas.
Bocelli mengalami gangguan penglihatan sejak kecil akibat glaukoma kongenital. Pada usia 12 tahun, ia kehilangan penglihatannya sepenuhnya setelah mengalami kecelakaan saat bermain sepak bola.
Meski menghadapi keterbatasan penglihatan, Bocelli tetap menekuni musik dan mengembangkan kemampuan vokalnya. Ia kemudian dikenal di berbagai negara melalui penampilan opera, konser berskala besar, serta kolaborasi dengan penyanyi dari beragam genre.
Dilansir dari biografi resmi di situsnya, Bocelli telah menjual lebih dari 90 juta album sepanjang kariernya. Ia juga pernah tampil dalam berbagai acara internasional, termasuk di hadapan kepala negara dan pemimpin dunia.
Sebelum dikenal sebagai penyanyi tenor dunia, Andrea Bocelli menempuh pendidikan di bidang hukum. Ia melanjutkan studi di Universitas Pisa, Italia, dan berhasil meraih gelar sarjana hukum.
Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Bocelli sempat bekerja sebagai pengacara sebelum memutuskan untuk lebih serius menekuni karier musik. Di luar pendidikan formalnya di bidang hukum, Bocelli juga menjalani pelatihan vokal klasik. Ia belajar menyanyi di bawah bimbingan Franco Corelli, salah satu tenor opera terkemuka Italia.
Bocelli kemudian memperoleh gelar sarjana dalam bidang seni vokal opera dari Konservatorium Musik G. Puccini di La Spezia, Italia. Perpaduan pendidikan akademik dan pelatihan musik tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya.

Nama Andrea Bocelli mulai dikenal luas setelah memenangkan kategori pendatang baru dalam Sanremo Music Festival pada 1994. Kemenangan tersebut menjadi salah satu titik penting yang membuka jalan bagi kariernya di industri musik Italia dan internasional.
Pada tahun yang sama, ia merilis album Il Mare Calmo della Sera. Setelah itu, popularitasnya semakin meningkat melalui album dan penampilan yang menggabungkan musik klasik dengan unsur pop.
Salah satu lagu yang turut memperkenalkan namanya kepada pendengar global adalah Con te partirò. Lagu tersebut kemudian dikenal luas dalam versi duet berbahasa Inggris berjudul Time to Say Goodbye, yang dibawakannya bersama Sarah Brightman.
Sepanjang kariernya, Bocelli tampil dalam berbagai pertunjukan opera dan konser internasional. Ia juga berkolaborasi dengan sejumlah musisi ternama serta menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya di dunia musik.
Pada 2010, Bocelli memperoleh bintang di Hollywood Walk of Fame. Ia juga menerima Crystal Award dari World Economic Forum pada 2015 sebagai pengakuan atas kontribusinya di bidang seni dan kemanusiaan.
Kontroversi yang mengiringi rencana konser Bocelli berkaitan dengan sikap kelompok pro-Palestina terhadap rekam jejak penampilannya di Israel. Dilansir dari AFP, Bocelli pernah tampil dalam konser di Tel Aviv pada 2022.
Penampilan tersebut dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Bocelli juga pernah tampil dalam acara penggalangan dana di Los Angeles pada 2010 yang dikaitkan dengan kelompok pendukung militer Israel. Rekam jejak tersebut menjadi salah satu alasan kelompok pro-Palestina menyerukan boikot terhadap konsernya di Yordania.
Di Indonesia, MUI menyatakan penolakan terhadap rencana konser Bocelli dengan merujuk pada sikap organisasi tersebut mengenai dukungan terhadap perjuangan Palestina. MUI mendesak pemerintah membatalkan konser yang direncanakan berlangsung di Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026 dan Jakarta pada 3 November 2026.
Sementara itu, di Yordania, kelompok Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) bersama sejumlah pihak menyerukan agar masyarakat tidak membeli tiket konser Bocelli di Petra yang dijadwalkan pada 27 November 2026.
Seruan tersebut merupakan bentuk protes terhadap apa yang mereka nilai sebagai dukungan Bocelli terhadap Israel. Adapun jadwal konser yang tercantum di situs resmi sang penyanyi menunjukkan bahwa agenda di Indonesia dan Yordania direncanakan berlangsung pada tanggal-tanggal tersebut.
(Djanti Virantika)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik