“Bambu ini manfaatnya sangat banyak. Selain untuk menjaga lingkungan, bambu juga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan bangunan, kerajinan, sampai produk yang memiliki nilai ekonomi. Karena itu, bambu perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Subur.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh peserta PPSN VI 2026 dapat mendorong para santri mengenali potensi lingkungan di daerah asal masing-masing.
“Harapannya, para santri bisa melihat bahwa menjaga lingkungan itu memberikan banyak manfaat. Bambu yang kita rawat hari ini bisa menjadi sumber kehidupan, sumber ekonomi, sekaligus menjaga lingkungan untuk generasi berikutnya. Potensi serupa juga bisa dikembangkan di daerah asal masing-masing,” katanya.
Bagi peserta Pramuka, pembelajaran di Boon Pring juga menjadi contoh bagaimana kegiatan kepramukaan dapat menjadi sarana pendidikan di luar ruang kelas.
Melalui pengamatan langsung, peserta belajar mengenai sumber air, kawasan hijau, pemanfaatan energi terbarukan, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Pengalaman tersebut sekaligus melatih peserta untuk melihat persoalan lingkungan dari sisi sosial, ekonomi, dan ekologis.
Pendekatan ini sejalan dengan pendidikan kepramukaan yang menekankan pembelajaran melalui pengalaman. Santri tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga diajak mengamati, berdiskusi, dan memahami bagaimana sebuah komunitas memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.