Selama ini, petani masih mengeringkan kopi secara tradisional menggunakan terpal di pinggir jalan. Ketika hujan turun, proses pengeringan dapat terganggu dan kopi kembali basah sehingga berpengaruh terhadap kualitas serta harga jual.
Rumah pengering kopi yang sedang dibangun dirancang menggunakan teknologi efek rumah kaca dan nantinya dioperasikan oleh masyarakat. Gapoktan Kopi Alam Rano yang beranggotakan 40 petani berharap fasilitas tersebut dapat membantu meningkatkan penanganan hasil panen.
Selain mendukung aktivitas pertanian, kegiatan gotong royong juga mempertemukan warga lokal dengan masyarakat transmigran dalam pekerjaan bersama.
“Rasa kekeluargaan kami di transmigrasi dan kepedulian antarwarga, antara lokal dan Jawa, itu hidup kembali. Pekerjaan yang tadinya kelihatan berat dan mustahil kalau dikerjakan sendiri, ternyata kalau dipikul sama-sama bisa cepat selesai,” ujar Solikhin.
Kegiatan TEP di Rano menjadi salah satu bentuk keterlibatan perguruan tinggi dalam pendampingan masyarakat di kawasan transmigrasi. Pendekatan tersebut tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemanfaatan potensi lokal yang dapat dikelola bersama masyarakat.