Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tim Ekspedisi UI Temukan Fungsi Lain Biji Pala, Bisa Diubah Menjadi Hand Sanitizer

Khafid Mardiyansyah , Jurnalis-Sabtu, 26 September 2026 |22:54 WIB
Tim Ekspedisi UI Temukan Fungsi Lain Biji Pala, Bisa Diubah Menjadi <i>Hand Sanitizer</i>
TEP UI di Papua Barat
A
A
A

PAPUA BARAT – Dunia pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Hal itu ditunjukkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) melalui kegiatan edukasi dan pelatihan pengolahan biji pala bagi masyarakat kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur, Papua Barat.

Dalam kegiatan tersebut, TEP UI mengajarkan warga mengolah biji pala yang selama ini memiliki nilai jual relatif rendah menjadi produk pembersih tangan berbasis bahan alam. Pelatihan ini sekaligus menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan dan hasil kajian ke dalam kehidupan masyarakat.

Workshop yang digelar di Balai Isombani, Kampung Werianggi, Sabtu (19/9/2026), diikuti sekitar 20 peserta dari kelompok UMKM Ayawata. Peserta terdiri dari mama-mama Orang Asli Papua (OAP) maupun masyarakat transmigran.

Salah satu peserta, Mama Katerina Bieth, berharap pengetahuan yang diperoleh dari TEP UI dapat terus dikembangkan menjadi keterampilan produktif bagi masyarakat.

"Harapan kami, pelatihan dan ilmu dari Tim Ekspedisi Patriot UI tidak hanya berhenti sampai di sini saja, melainkan dikembangkan terus sampai menjadi peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga Kampung Werianggi," kata Katerina.

Pendidikan Berbasis Potensi Lokal

Bagi TEP UI, pemanfaatan biji pala menjadi hand sanitizer bukan sekadar kegiatan membuat produk. Proses tersebut menjadi contoh pembelajaran berbasis potensi lokal, di mana pengetahuan akademik dipertemukan dengan persoalan dan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Pemilihan biji pala juga didasarkan pada kajian literatur mengenai kandungan minyak atsiri dan senyawa aktif yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Namun, temuan dari literatur tersebut masih dalam proses verifikasi melalui pengujian lebih lanjut.

Anggota TEP UI, Fhira, mengatakan tim masih melakukan pengujian untuk mengetahui efektivitas kandungan biji pala setelah melalui proses pengolahan.

"Kandungan itu kita lihat dari jurnal. Ternyata memang ada kandungannya untuk antiseptik. Cuma kita juga lagi meninjau lebih lanjut, setelah dicampur alkohol dan nonalkohol, apakah kandungan biji pala ini benar sebesar itu," ujar Fhira, Jumat (25/9/2026).

Menurut dia, proses tersebut menjadi bagian penting karena masyarakat tidak hanya diberikan keterampilan praktis, tetapi juga diperkenalkan pada proses ilmiah untuk menguji suatu produk.

Warga Belajar dari Proses Riset

Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan tahapan pengolahan biji pala. Biji pala terlebih dahulu dijemur selama sekitar lima hingga enam hari hingga kering. Setelah itu, biji ditumbuk hingga halus dan direndam dalam alkohol 70 persen dengan perbandingan 1:5 selama tiga hari.

Campuran kemudian disaring dan ekstraknya dikemas dalam botol spray.

Di sisi lain, TEP UI melakukan pengujian laboratorium untuk mengetahui efektivitas masing-masing bahan. Pengujian tersebut membandingkan empat sampel, yaitu kelompok tanpa penggunaan hand sanitizer, hand sanitizer berbahan biji pala, hand sanitizer berbahan daging pala, serta air rendaman biji pala tanpa alkohol.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan yang dibawa ke masyarakat tidak berhenti pada transfer keterampilan, tetapi juga mencakup proses observasi, pengujian, dan evaluasi.

Dengan pendekatan tersebut, warga dapat memahami bahwa pengembangan produk berbahan lokal membutuhkan dasar pengetahuan sekaligus pembuktian ilmiah sebelum dipasarkan secara lebih luas.

Dari Kampus ke Masyarakat

Kegiatan TEP UI juga memperlihatkan bentuk pendidikan yang menghubungkan perguruan tinggi dengan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi diterapkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah.

Produk berbasis biji pala tersebut rencananya akan diperkenalkan kepada sejumlah kepala daerah pada 1 Oktober mendatang setelah hasil pengujian laboratorium diperoleh.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya menilai kehadiran Tim Ekspedisi Patriot menunjukkan bagaimana pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi solusi yang dapat diterapkan masyarakat.

"Kalian tidak hanya turun membawa penguasaan ilmu, tetapi juga solusi yang membumi," ujar AHY saat audiensi dengan TEP di Jayapura, Kamis (17/9/2026).

Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan pentingnya mengembangkan kawasan dari potensi yang sudah dimiliki masyarakat.

Menurutnya, pengembangan tersebut dapat diperkuat melalui keterampilan, teknologi, pengemasan, hingga akses pasar.

"Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat," kata Iftitah.

Bagi dunia pendidikan, model seperti ini menunjukkan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori. Pengetahuan akademik dapat menjadi lebih relevan ketika mahasiswa dan akademisi terlibat langsung dalam mengidentifikasi potensi, menguji solusi, sekaligus mendampingi masyarakat dalam mengembangkan hasilnya.

Melalui pendekatan tersebut, potensi lokal seperti pala tidak hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran, penelitian, inovasi, dan pengembangan keterampilan masyarakat.

(Khafid Mardiyansyah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement