JAKARTA — Kepedulian terhadap laut ternyata bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana di ruang kelas. Di SD Negeri Sarang Tiung, Kotabaru, Kalimantan Selatan, para siswa yang sebelumnya harus berulang kali diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya kini mulai mengambil peran dengan saling mengingatkan agar lingkungan tetap bersih.
Perubahan itu dirasakan langsung oleh para guru. Bukan lagi hanya guru yang mengingatkan, para siswa mulai berani menegur teman yang membuang sampah sembarangan. Kebiasaan tersebut bahkan perlahan dibawa ke lingkungan rumah.
"Sekarang, malah murid yang saling mengingatkan untuk tidak buang sampah sembarangan. Mereka berani menegur temannya, bahkan membawa kebiasaan baik ini ke rumah mereka," ujar guru SDN Sarang Tiung, Kusriati.
SDN Sarang Tiung merupakan salah satu dari 61 sekolah pesisir yang mengikuti program Ocean LiteraSEA. Melalui program ini, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya disampaikan melalui teori. Anak-anak diajak mengenal laut, memahami persoalan lingkungan, serta membangun kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan perilaku yang terlihat di SDN Sarang Tiung menjadi salah satu target Ocean LiteraSEA. Meski dimulai dari tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, kebiasaan tersebut dinilai dapat menjadi langkah awal untuk menjaga ekosistem laut dalam jangka panjang.
Chairwoman Inovasi Muda, Restu Andini, mengatakan menjaga laut tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah yang sudah menumpuk di pesisir. Menurutnya, diperlukan generasi yang memiliki pengetahuan mengenai laut, kepedulian terhadap keberlanjutannya, serta kemampuan untuk menciptakan solusi di masa depan.
"Di sinilah Ocean LiteraSEA hadir, untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda di wilayah pesisir, mengenai pentingnya menjaga laut," ujar Restu dalam acara Indonesia Sustainability 360 Forum 2026 yang berlangsung pekan lalu.
Menurut Restu, literasi mengenai laut juga tidak sebatas memberikan pengetahuan tentang lingkungan. Edukasi tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal keterampilan sekaligus berbagai peluang yang berkaitan dengan sektor maritim.
“Ocean LiteraSEA kami dorong bukan hanya untuk membuat anak-anak mengetahui tentang laut, tetapi juga agar mereka peduli, mau mengambil aksi, memiliki keterampilan, dan pada akhirnya memahami bahwa laut juga membuka begitu banyak peluang profesi di masa depan.”
Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan Ocean LiteraSEA menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung masyarakat pesisir melalui edukasi sekaligus aksi nyata dalam menjaga laut.
“Ini adalah upaya kami menyiapkan generasi yang akan menjaga laut di masa depan. Generasi yang kelak akan mengambil keputusan, memimpin perubahan, dan menentukan bagaimana laut serta sumber daya alam kita dikelola secara berkelanjutan,” jelas Vega.
Vega menilai investasi terhadap generasi muda menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga ekosistem maritim untuk jangka panjang.
“Kami berharap anak-anak yang hari ini belajar mengenal laut, membersihkan pesisir, dan berani mengingatkan temannya untuk menjaga lingkungan, adalah pahlawan untuk kelestarian laut Indonesia dan semoga tumbuh menjadi talenta maritim kebanggaan."
Urgensi membangun kepedulian terhadap laut semakin besar jika melihat persoalan sampah yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbunan sampah nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 50,6 juta ton.
Sekitar 40 persen dari jumlah tersebut disebut belum terkelola dan berpotensi berakhir di laut. Setiap tahunnya, diperkirakan 16,2 juta ton sampah masuk ke laut.
Keberadaan sampah laut dapat mengancam kehidupan biota, merusak habitat, serta mengganggu rantai makanan dalam ekosistem laut. Karena itu, upaya mengurangi sampah tidak hanya membutuhkan kebijakan dan aksi berskala besar, tetapi juga perubahan perilaku sejak usia dini.
Kebiasaan kecil yang dilakukan anak-anak hari ini dapat berkembang menjadi kepedulian yang lebih besar di masa depan. Seorang siswa yang awalnya hanya mengingatkan temannya untuk tidak membuang sampah sembarangan bisa saja kemudian mengajak keluarganya melakukan hal serupa.
Pada tahap berikutnya, kepedulian tersebut dapat mendorong anak memilih pendidikan atau profesi yang berkaitan dengan laut maupun bidang lain yang membawa prinsip keberlanjutan lingkungan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik