Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Kepercayaan Diuji Pelajaran Komunikasi Krisis dari Kasus Peretasan Data 

Opini , Jurnalis-Minggu, 22 Februari 2026 |10:43 WIB
Ketika Kepercayaan Diuji Pelajaran Komunikasi Krisis dari Kasus Peretasan Data 
Ketika Kepercayaan Diuji Pelajaran Komunikasi Krisis dari Kasus Peretasan Data. (Ilustrasi: Freepik)
A
A
A

Pada akhirnya, krisis digital menegaskan bahwa teknologi dan komunikasi tidak bisa dipisahkan. Sistem yang kuat tanpa komunikasi yang terbuka tetap menciptakan kebingungan, sementara komunikasi yang tepat dapat menjembatani situasi bahkan ketika infrastruktur teknis sedang bermasalah. Tantangan utama bukan hanya menghadapi ancaman siber, tetapi memastikan kesiapan organisasi untuk berbicara, menjelaskan, dan menjaga kepercayaan publik saat dunia menunggu jawaban. Di titik inilah komunikasi krisis menjadi jangkar strategis-membantu menyederhanakan kompleksitas, menenangkan emosi publik, melindungi reputasi, serta memastikan setiap langkah pemulihan berjalan selaras dan penuh tanggung jawab.

Brainstorming Insight: Apa yang Dapat Dipelajari?

Setiap krisis digital selalu menyisakan jejak pembelajaran. Ia tidak hanya menguji kesiapan teknis sebuah organisasi, tetapi juga kedewasaan komunikasi yang ditampilkan kepada publik. Dari pengalaman berbagai insiden, ada satu hal yang selalu terbukti benar: transparansi bertahap jauh lebih efektif daripada diam (Ayuningtyas dkk., 2025). Dalam banyak kasus, investigasi memang memerlukan waktu yang panjang dan penuh ketelitian. Namun komunikasi tidak harus menunggu semuanya selesai. Prinsip utamanya sederhana namun krusial: sampaikan apa yang sudah diketahui, akui apa yang belum dapat dipastikan, dan jelaskan langkah yang sedang serta akan dilakukan. Transparansi bertahap memberi pesan yang kuat-bahwa publik dilibatkan, bukan dibiarkan menebak-nebak. Dalam pusaran serangan digital, data teknis saja tidak cukup. Publik juga membutuhkan ketenangan emosional. Karena itu, empati menjadi komponen komunikasi krisis yang tak kalah penting (Zuhdi & Ayuningtyas, 2024). Pernyataan teknis seperti “mitigasi sedang dilakukan” atau “forensik digital masih berlangsung” memang perlu. Tetapi masyarakat juga ingin mendengar pengakuan atas kecemasan mereka: “Kami memahami kekhawatiran Anda,” atau “Kami menyadari layanan ini sangat penting bagi publik.” Kalimat sederhana seperti ini memiliki efek menenangkan yang tidak bisa digantikan oleh istilah teknis sebesar apa pun. Dalam krisis, yang terguncang bukan hanya sistem-tetapi rasa aman.

Di tengah situasi genting, konsistensi informasi menjadi penentu stabilitas persepsi publik. Karena itu, kehadiran satu juru bicara atau single spokesperson adalah hal yang wajib, meskipun kanal komunikasi yang digunakan bisa beragam. Satu pintu informasi mencegah munculnya pesan yang saling bertentangan. Tantangannya memang terletak pada menjaga keseragaman pesan, karena sedikit perbedaan narasi saja dapat memantik spekulasi. Untuk itu, organisasi perlu memiliki tim komunikasi yang solid, koordinasi yang rapi, juru bicara yang jelas, dan pesan kunci yang disepakati bersama. Selain itu, krisis digital menuntut kemampuan menjaga irama komunikasi secara tepat: cepat tanpa panik, hati-hati tanpa lambat. Respons yang terlalu lambat memberi ruang bagi rumor untuk berkembang, sementara respons yang terlalu cepat tanpa verifikasi bisa menimbulkan koreksi berulang yang merusak kredibilitas. Inilah seni sejati komunikasi krisis. Di era media sosial, frasa “no comment” hampir selalu dipahami sebagai tanda yang harus dihindari (Ayuningtyas dkk., 2025). Lebih baik mengatakan, “Kami sedang mengumpulkan informasi dan akan memberikan pembaruan dalam 24 jam.” Kalimat sederhana, namun kejelasan jangka waktunya menghadirkan rasa kepastian.

Akhirnya, setiap krisis adalah peluang. Serangan siber tidak harus semata-mata defensif; ia bisa menjadi momentum edukasi publik. Organisasi dapat sekaligus mengajak masyarakat memahami pentingnya keamanan data, meningkatkan literasi digital, memperkuat penggunaan kata sandi, hingga mengingatkan kewaspadaan terhadap phishing. Dengan pendekatan ini, komunikasi berubah dari sekadar respons terhadap masalah menjadi kontribusi yang membangun resiliensi publik. Krisis memang tidak dapat dihindari, tetapi cara kita berkomunikasi menentukan bagaimana publik mengingatnya: sebagai kepanikan atau sebagai pembelajaran kolektif. Dan dalam dunia digital hari ini, pembelajaran itu bernilai jauh lebih besar daripada sekadar perbaikan sistem.

Perspektif yang Lebih Luas antara Krisis dan Kepercayaan

Dalam komunikasi krisis, yang dipertaruhkan bukan hanya citra, tetapi trust capital-modal kepercayaan. Kepercayaan dibangun dalam waktu lama, tetapi bisa terkikis dalam hitungan hari atau bahkan jam. Namun kabar baiknya: kepercayaan juga bisa diperkuat melalui respons krisis yang baik. Banyak studi menunjukkan bahwa organisasi yang responsif, transparan, empatik dan juga konsisten justru dapat keluar dari krisis dengan reputasi yang lebih kuat dibanding sebelumnya (Coombs & Holladay, 2022). Kita sedang hidup dalam sebuah paradoks informasi: di saat dunia semakin terhubung, pikiran kita justru semakin terisolasi di dalam echo chamber. Ini adalah sebuah realitas sosio-politik di mana individu terus-menerus dikelilingi oleh informasi, pandangan, dan opini yang hanya memantulkan kembali keyakinan lama mereka (Muqsith, dkk, 2019). Fenomena ini tidak hanya terjadi di ruang-ruang diskusi fisik, tetapi terakselerasi secara masif di jagat digital. Dampaknya jauh lebih dalam dari sekadar kesamaan opini; ruang gema ini menjadi inkubator bagi bias konfirmasi. Di dalamnya, kebenaran tidak lagi dicari berdasarkan objektivitas, melainkan berdasarkan kesesuaiannya dengan prasangka kita. Lingkungan ini menciptakan psikologi defensif yang kolektif, di mana setiap perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman, bukan peluang dialog. Akibatnya, sekat-sekat sosial semakin menebal, empati terkikis, dan masyarakat terjebak dalam polarisasi ekstrem yang melumpuhkan kemampuan kita untuk membangun konsensus.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement