Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menanamkan Diplomasi Sejak Dini: Peneliti HI Paparkan Urgensi Mempopulerkan MUN di Indonesia

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 24 Januari 2026 |09:33 WIB
Menanamkan Diplomasi Sejak Dini: Peneliti HI Paparkan Urgensi Mempopulerkan MUN di Indonesia
Menanamkan Diplomasi Sejak Dini: Peneliti HI Paparkan Urgensi Mempopulerkan MUN di Indonesia. (Foto Peneliti Hubungan Internasional, Calvin Khoe. Dok Ist)
A
A
A

Selain itu, perluasan keterlibatan sekolah juga harus didukung dengan strategi outreach yang masif dan dapat mengubah stigma bahwa MUN adalah kegiatan yang membosankan atau terlalu rumit.

"Jadi saran saya konsisten. Terus outreach-nya atau penjangkauannya diperluas. Sekolah Katolik atau yang swasta muslim itu harus banyak diajakin supaya mereka bertanya ini apaan ya. Nanti dari sana mereka melihat, oh ini lebih menarik daripada hanya lomba debat atau lomba bahasa Inggris,” tambah dia.

Di sisi lain, ia juga melihat perlunya dukungan pemerintah khususnya melalui Kementerian Luar Negeri yang dianggap krusial untuk membawa semangat diplomasi publik ke ranah sekolah menengah. Calvin menyarankan agar kementerian terkait mulai melihat potensi besar yang dimiliki oleh siswa SMA dalam bidang hubungan internasional.

"Harusnya Kementerian Luar Negeri yang bergerak turun. Harusnya ada yang namanya satu kantor di Kementerian, mungkin namanya Direktorat Diplomasi Publik, mereka juga mulai melihat MUN di level ini, SMA. Kita juga bisa mendorong pemda-pemda,” tutur Calvin.

Lebih lanjut, ia membeberkan sebuah fakta menarik dari MUN, dimana prinsip-prinsip yang dijalankan sebetulnya sangat selaras dengan akar budaya Indonesia yang mengedepankan musyawarah. Hal tersebut bisa menjadi kekuatan utama yang bisa membuat anak muda Indonesia unggul di panggung internasional.

"Karena budaya Indonesia itu sebenarnya buat saya itu paling efektif di dunia internasional. Budaya musyawarah mufakat, kita kan suka nongkrong ya, suka ngeriung gitu kan. Budaya itu kan membuat setiap kali kita ada masalah kita rembukin dulu,” beber dia.

Selain itu, nilai-nilai luhur inilah yang kemudian diadopsi dalam mekanisme kawasan seperti ASEAN, di mana konflik diselesaikan melalui dialog santun daripada peperangan. Ia berpendapat bahwa secara natural, anak muda Indonesia akan merasa nyaman dengan pola-pola diskusi yang ditawarkan oleh MUN.

"Budaya musyawarah mufakat itu diadopsi ke level Asia Tenggara karena Indonesia suka ngeriung. Budaya Indonesia itu membawa suasana santun, walaupun kita sendiri suka ribut, tapi ributnya kita kan selalu selesai dengan turun rembuk, jalan damai, ya ngobrol gitu kan,” tandas Calvin.

(Rani Hardjanti)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement