JAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) menjalankan respons pemulihan pascabencana banjir besar di Aceh melalui pendekatan kebencanaan terpadu dan berlapis. Strategi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan lapangan secara bertahap, mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan hunian bagi warga terdampak.
Respons UGM dilaksanakan di sejumlah kabupaten dengan fokus intervensi yang berbeda, disesuaikan dengan tingkat urgensi dan karakter dampak bencana. Pendekatan berbasis kondisi lapangan ini memungkinkan setiap kebutuhan ditangani secara tepat sasaran, sekaligus menegaskan peran UGM dalam merancang respons kebencanaan yang adaptif dan terukur.
Pada fase awal tanggap darurat, keterbatasan akses listrik menjadi tantangan utama di wilayah terdampak banjir dan tanah longsor. Melalui Pusat Studi Energi (PSE), UGM menyalurkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) portable sejak 28 Desember 2025 sebagai solusi sementara sebelum jaringan listrik utama kembali pulih.
Dr. Ir. Rachmawan Budiarto, S.T., M.T., IPU, mewakili PSE UGM, menjelaskan bahwa PLTS portable disalurkan ke wilayah Pantan Kemuning, Timang Gajah, Simpur di Mesidah (Kabupaten Bener Meriah) serta Takengon, Aceh Tengah.
PLTS yang diberikan memiliki kapasitas 200 watt peak (WP) dan disalurkan dalam tiga paket utama. Perangkat dirancang secara modular agar mudah dipasang serta dapat dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat setempat.