Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menghidupkan Kembali Spesimen Harimau Tasmania yang Tersimpan 108 Tahun, Pakar IPB Universitas Angkat Bicara

Rani Hardjanti , Jurnalis-Selasa, 29 Oktober 2024 |12:23 WIB
Menghidupkan Kembali Spesimen Harimau Tasmania yang Tersimpan 108 Tahun, Pakar IPB Universitas Angkat Bicara
Harimau Tasmania akan dihidupkan kembali setelah 108 tersimpan. (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Penemuan spesimen kepala harimau Tasmania yang disimpan dalam alkohol dan disimpan dalam ember selama 108 tahun di museum Melbourne, Australia, mengejutkan dunia. Temuan ini membuka peluang besar untuk 'menghidupkan' kembali harimau Tasmania yang telah punah.

Prof Ronny Rachman Noor, seorang pakar Genetika Ekologi dari IPB University, menjelaskan Harimau Tasmania, yang memiliki nama ilmiah Thylacinus cynocephalus, terakhir kali terlihat hidup pada tahun 1936 setelah mengalami fase perburuan dan eksploitasi manusia selama berabad-abad. Hewan ini secara resmi dinyatakan punah pada tahun 1980-an.

(Prof Ronny Rachman Noor. Foto: Dok IPB)

“Kepunahan predator predator ini membuat para pelestari satwa langka merasa sedih dan putus asa. Satwa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di Tasmania selama ribuan tahun, karena merupakan predator marsupial puncak,” ungkap Prof Ronny.

Dia juga menambahkan, "Dahulu, Harimau Tasmania tersebar di seluruh benua. Namun, seiring berjalannya waktu, populasi mereka menyusut dan akhirnya menetap di Tasmania sekitar 3.000 tahun yang lalu."

Menurut dosen Fakultas Peternakan IPB University ini, ciri fisik harimau Tasmania sangat unik, dengan tubuh mirip anjing dan garis-garis mencolok di punggungnya. Penampilannya yang khas ini membuat hewan tersebut diburu oleh para penjajah Eropa yang datang ke Australia.

Prof Ronny berpendapat bahwa penemuan spesimen kepala harimau Tasmania yang utuh ini memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Dengan teknologi DNA, mereka dapat merekonstruksi genom hewan tersebut dengan menggabungkan sebagian besar urutan DNA dan untaian RNA yang menunjukkan gen aktif di berbagai jaringan saat hewan itu mati.

“Genom adalah kunci untuk 'menghidupkan kembali' spesies yang punah, karena memberikan cetak biru lengkap yang memungkinkan rekonstruksi,” jelasnya.

Para peneliti yang terlibat dalam upaya 'menghidupkan' kembali Harimau Tasmania melaporkan bahwa genom yang berhasil dirakit hingga saat ini mencapai tiga miliar pasangan basa nukleotida. Namun, Prof Ronny menyatakan bahwa rekonstruksi ini belum sepenuhnya selesai karena masih ada sekitar 45 rangkaian DNA yang belum terhubung.

“Diharapkan dalam beberapa bulan ke depan, pekerjaan yang kompleks ini dapat diselesaikan,” ujar dia.

Prof Ronny, mengatakan jika cetak biru Harimau Tasmania berhasil direkonstruksi dan dilanjutkan dengan teknologi reproduksi, diharapkan spesies yang punah ini dapat 'dihidupkan kembali'.

Dia juga menjelaskan bahwa proses rekonstruksi genom harimau Tasmania tidaklah mudah, karena peneliti harus menangani RNA yang lebih tidak stabil dibandingkan DNA.

“RNA bervariasi di berbagai jaringan dan berisi tentang gen aktif yang diperlukan agar jaringan tertentu berfungsi. Ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan informasi terkait fungsi informasi berbagai organ,” jelasnya.

Selain itu, peneliti juga akan mengambil sel punca dari kerabat harimau Tasmania yang masih hidup, yang memiliki DNA mirip, untuk melakukan pengeditan gen sebagai acuan dalam memprediksi sel yang dimiliki oleh harimau Tasmania.

Setelah rekonstruksi genom selesai, langkah selanjutnya adalah mengembangkan teknologi reproduksi buatan dengan menginduksi ovulasi pada marsupial dan melakukan pembuahan embrio sel tunggal, yang kemudian akan dikembangkan dalam rahim buatan.

“Para peneliti diperkirakan akan berhasil 'menghidupkan kembali' harimau Tasmania yang telah punah dalam waktu 3-5 tahun ke depan,” jelas Prof Ronny. Meski demikian, ia menekankan bahwa hasil yang diperoleh mungkin tidak akan sama dengan harimau Tasmania yang telah punah.

“Jika upaya kelompok peneliti internasional ini berhasil, ini akan menjadi tonggak baru dalam sejarah ilmu pengetahuan dan membuka jalan untuk menghidupkan kembali spesies lain yang telah punah,” kata Prof Ronny.

Dia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak terhadap ekosistem jika Harimau Tasmania berhasil dihidupkan kembali dan dilepaskan ke alam. Tingkah laku dan keberadaan mereka di alam belum bisa diprediksi, yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

“Perlu berpikir secara cermat bahwa 'menghidupkan kembali' spesies yang punah bukan hanya tantangan genetik dan reproduksi, tetapi juga tantangan ekologi jika mereka dibiarkan ke alam,” tambahnya.

Selain itu, dia menekankan pentingnya upaya pelestarian sistematis untuk melindungi satwa langka yang masih hidup dan terancam punah.

(Rani Hardjanti)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement