Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal ARV, Harapan ODHIV agar Kualitas Hidup Lebih Baik

Timothy Gishelardo , Jurnalis-Jum'at, 08 Desember 2023 |06:10 WIB
Mengenal ARV, Harapan ODHIV agar Kualitas Hidup Lebih Baik
Mengenal obat ARV untuk ODHIV (Foto: Medical News Today)
A
A
A

JAKARTA – Kualitas hidup pasien HIV AIDS (ODHIV) bisa lebih baik dengan obat Antiretroviral (ARV). ARV adalah kelompok obat yang berfungsi untuk membatasi penyebaran infeksi human immunodeficiency virus (HIV).

Orang dengan HIV (ODHIV) disarankan untuk mengonsumsi obat ini secara rutin agar dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik. ARV dianggap dapat menjadi harapan baru bagi ODHIV sehingga mereka dapat menjalankan hidupnya dengan normal.

 BACA JUGA:

Dilansir dari situs Kementerian Kesehatan RI, Jumat (8/12/2023), obat ARV ditemukan pada tahun 1996 dan menjadi sebuah revolusi di dunia kesehatan terutama bagi para pengidap HIV-AIDS. ARV merupakan bagian dari pengobatan HIV dan AIDS yang berfungsi untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus dalam darah sampai tidak terdeteksi.

Meski begitu, banyak keluhan terkait dengan efek samping dari pengobatan ARV ini. Banyak laporan yang mengatakan bahwa mereka merasakan gejala seperti mual, pusing, dan gatal pada kulit ketika mereka mengongsumsi ARV. Hal ini tentu menjadi sebuah ketakutan baru bagi ODHIV yang belum teredukasi terkait dengan bagaimana cara kerja dari ARV itu sendiri.

Hal tersebut memang benar adanya, namun efek samping itu ada hanya pada masa awal mengonsumi ARV. Dr. Ray Basrowi selaku anggota pengurus dari Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS) dan ketua Health Collaborative Center (HCC) mengatakan bahwa efek samping ini hanya terjadi pada pada penggunaan 3-6 bulan pertama. Hal tersebut terjadi karena adanya campuran dari beberapa obat dan komposisi zat aktif yang terkandung dalam ARV sehingga penggunanya merasakan efek samping tersebut. Tetapi dr. Ray mengungkapkan bahwa terdapat periode tertentu sekitar 6 sampai 9 bulan masa toleransi tubuh manusia terhadap efek samping ARV.

 BACA JUGA:

“Sudah ada beberapa penelitian yang mengatakan di periode tertentu, 6 bulan 9 bulan ada masa toleransi. Di mana setelah mulai melakukan kompromi dengan efek samping obat kemudian keadaan umum si pasien menjadi lebih baik, efek samping itu akan tertekan,” ucap dr. Ray pada sebuah acara bertajuk Bergerak Bersama Komunitas, Akhiri AIDS 2030 dalam diskusi di Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Ray mengingatkan bahwa menggunakan ARV secara teratur dapat membantu kualitas hidup ODHIV menjadi lebih baik. Efek samping memang ada, tetapi hal tersebut akan terkompromi secara otomatis oleh tubuh ODHIV bahkan memberikan lebih banyak manfaat baik bagi mereka. Mengonsumsi HRV setiap hari menjadi salah satu upaya ODHIV dalam meraih kehidupan yang lebih baik karena efek tular-menular akan menjadi minim. Dan dari pada itu, perlu diingat bahwa terkena virus HIV-AIDS bukan berarti dunia sudah berakhir.

Bahkan dr. Ray juga mengatakan bahwa ODHIV tidak akan menularkan virus HIV jika mengonsumsi ARV secara teratur setiap harinya. Tetapi hal tersebut harus terlebih dahulu dikonfirmasi melalui sebuah tes viral load untuk melihat kadar virus.

Retno Trisari Fungsional Epidemiologi Kementerian Kesehatan yang juga turut menghadiri pertemuan tersebut juga mengatakan bahwa obat lainnya (selain untuk HIV) juga memiliki efek samping. Retno bahkan mengatakan bahwa akan lebih berbahaya jika ODHIV tidak mengonsumsi ARV karena ketakutan mereka terhadap efek samping obat tersebut.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement