Share

Fenomena Oversharing; Hilangnya Privasi di Era Digital

Aurora Rafi Nafsa, Presma · Rabu 26 Oktober 2022 16:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 26 65 2695019 fenomena-oversharing-hilangnya-privasi-di-era-digital-bPcl1C8C1f.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Di zaman sekarang, hampir setiap orang, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa memiliki media sosial. Masa pandemi juga menambah kegiatan internet dan media sosial semakin tinggi.

Riset dari Data Reportal menyakatan bahwa jumlah pengguna media sosial Indonesia mencapai 191,4 juta pada Januari 2022.

Angka ini bertambah 21 juta atau 12,6 persen dari tahun 2021.

Hal ini membuktikan bertambahnya jumlah pengguna media sosial masyarakat Indonesia, namun hal ini tidak diiringi dengan pentingnya menjaga privasi diri.

Media sosial menjadi alat setiap orang untuk mencari hiburan, informasi, dan sebagainya.

Melalui media sosial, setiap orang bisa mengupload apa yang mereka inginkan. Mulai dari share informasi, lokasi, pembelajaran, hingga kegiatan pribadi pun di sebarkan.

Follow Berita Okezone di Google News

Hal ini dengan mudahnya bisa kita temukan di sosial media. Dalam sehari, tidak bisa dipungkiri sebagian orang bisa mengumbar aktivitasnya melalui video atau foto sebanyak lebih dari lima kali.

Kebiasaan mengshare informasi pribadi berlebihan inilah yang kita sebut saat ini sebagai fenomena oversharing.

Aktivitas oversharing seakan sudah menjadi gaya hidup yang jika tidak dilakukan maka akan membuat seseorang menjadi cemas. Ada ragam motif dibalik kegiatan oversharing tersebut.

Menurut studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Psikologika pada 2020, perilaku oversharing dipengaruhi oleh motif menjaga relasi sosial, presentasi diri, hingga hiburan.

Saat di media sosial sedang trend akan suatu hal, kita pun akan cenderung mengikuti trend tersebut agar mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Seorang Profesor dari DePaul University Chicago, Paul Booth, menjelaskan bahwa prilaku oversharing bisa jadi diakibatkan karena perasaan fear of missing out (FOMO) atau takut dengan ketertinggalan trend.

Salah satu media sosial yang populer di tengah masyarakat Indonesia adalah Instagram. Fitur-fitur yang menarik dan mudah yang terdapat di Instagram memudahkan siapapun untuk saling berbagi kabar dengan pengguna lain.

Fitur Instagram Story, Reels dan sebagainya sering digunakan untuk membagikan kegiatan pribadi penggunanya.

Selain itu, ada juga YouTube yang menjadi media favorit di Indonesia dan di seluruh dunia.

Berbeda dengan zaman dahulu, sebuah ponsel hanya bisa berfungsi sebagai alat komunikasi saja.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Ipsos, sebuah perusahaan riset pasar dunia, menyatakan hasil risetnya mengenai perilaku sharing masyarakan Indonesia.

Sebanyak 15% marsyarakat Indonesia melakukan sharing berbagai hal, 35% hal yang penting saja, 40% beberapa hal saja dan hanya 5% yang tidak membagikan hal apapun.

Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki minat tinggi dalam penggunaan media sosial.

Lantas, apa saja dampak dari kegiatan oversharing?

Ketika seseorang terlalu sering mengumbar berbagai hal pribadi di sosial media, hal ini akan berdampak hilangnya ruang privasi dalam hidup seseorang.

Membuka informasi pribadi berlebihan sama saja dengan memancing kejahatan.

Penyalahgunaan identitas pribadi yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab lebih mudah terjadi.

Jika kita lihat di Instagram, kita akan menemukan banyak akun palsu yang menyebarkan foto dan video wanita yang entah mereka ambil dari mana.

Di masa keterbukaan informasi sangat mudah bagi seseorang untuk asal mengambil foto pribadi milik orang lain.

Membagikan informasi pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon tempat kerja sudah menjadi sebuah aktivitas yang wajar. Ditangan seorang hacker, hal ini bisa disalahgunakan untuk melakukan tidak kejahatan.

Kegiatan bersosial media tidak sepenuhnya berbahaya.Kita hanya perlu untuk lebih bijak menggunakannya.

Mengunggah banyak hal baik, semisal untuk berjualan di sosial media justru sangat dianjurkan.

Namun, saat mengumbar mengenai hal pribadi ada baiknya dipirkan terlebih dahulu dampak dari apa yang akan terjadi.

Tidak hanya kejahatan, oversharing juga berdampak pada kesehatan mental. Ketika kita membagikan suatu hal, bisa jadi pengguna lain memberikan tanggapan yang negatif terhadap unggahan kita.

Jika kita tidak bisa mengontrol diri, hal ini bisa membuat kita berpikir berlebihan, khawatir dan cemas.

Maka dari itu, pentingnya bagi kita untuk selalu belajar bagaimana dalam menggunakan media sosial yang sehat.

Jika ingin mengumbar suatu hal, selalu pikirkan konsekuensinya. Apapun yang kita unggah di media sosial, akan menjadi rekam jejak digital kita.

Kita harus bisa membedakan apa hal yang boleh di umbar dan tidak. Dengan demikian, kita bisa selalu menjaga privasi diri dan kesehatan mental kita.

Aurora Rafi Nafsa

Aktivis Persma Suaka UIN Bandung

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini