Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pembelajaran Alat Likuefaksi di SMA dan Perguruan Tinggi Akan Dimulai di Tahun Ajaran 2022/2023

Natalia Bulan , Jurnalis-Senin, 20 Juni 2022 |18:48 WIB
Pembelajaran Alat Likuefaksi di SMA dan Perguruan Tinggi Akan Dimulai di Tahun Ajaran 2022/2023
Disebut alat pendeteksi likuefaksi pertama di Indonesia yang dihasilkan dari Universitas Tadulako/Antara
A
A
A

PALU - Pembelajaran alat peraga alarm likuefaksi di tingkat SMA dan perguruan tinggi di Sulawesi Tengah akan dimulai pada semester ganjil tahun ajaran 2022/2023.

"Rencananya pembelajaran akan dimulai pada semester ganjil tahun ajaran 2022/2023," kata dosen pembimbing mahasiswa program studi pendidikan fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako Sahrul Saehana dikutip dari Antara, Senin (20/6/2022).

Menurutnya, alat peraga alarm likuefaksi dapat digunakan di pembelajaran Geografi SMA. Pasalnya, alat tersebut bisa menerangkan fenomena gempa bumi disertai likuefaksi.

Sementara pada pembelajaran di perguruan tinggi akan diajarkan pada beberapa mata kuliah yang relevan seperti ilmu alamiah dasar, kajian lingkungan hidup serta fisika bumi dan antariska.

Dalam pembelajaran di kelas alat ini dapat digunakan secara langsung sehingga siswa atau mahasiswa dapat mengamati kedua fenomena tersebut.

"Pembelajaran ini juga dapat diamati melalui video atau tayangan yang ada," ucapnya.

Sahrul mengatakan hak intelektual desain dan penemuan alat ini telah dilindungi oleh Undang-Undang karena telah didaftarkan melalui sentra Kekayaan Intelektual Universitas Tadulako ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI pada tanggal 30 Desember 2020 sebagai paten sederhana.

"Usulan tersebut dalam proses pemeriksaan substansi di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Diharapkan permohonan invensi bernomor S00202010788 dapat dikabulkan sehingga penemu atau investor bisa memperoleh sertifikat paten sederhana," terangnya.

Kata Sahrul, alat peraga alarm likuefaksi dianggap penting dijadikan pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi karena diharapkan dapat menjadi media belajar bagi siswa dan mahasiswa terkait proses terjadinya gempa bumi, cara menghadapi serta melakukan mitigasi ketika terjadi peristiwa.

Hal ini dilakukan agar dampak dan korban bencana alam dapat dikurangi apabila peristiwa tersebut berulang di masa mendatang.

"Siswa akan dijelaskan cara pembuatannya, edukasi untuk membuat alat ini akan dilakukan sehingga terampil menghasilkan karya-karya inovasi lanjutan atau penyempurnaan dan melahirkan inovasi lainnya," demikian Sharul.

(Natalia Bulan)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement