Hanya kumpulan Islam yang diberi kebebasan untuk membentuk Parta Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Partai Masyumi) yang lebih banyak bangkit di aspek sosial.
Meski eksistensi partai politik sebagai suatu organisasi tidak diakui, tokoh-tokoh politik saat itu masih berperan penting dalam proses kemerdekaan.
Pada masa Jepang, didirikan organisasi-organisasi massa yang jauh menyentuh akar-akar di masyarakat.
Berbeda dengan peran partai di era penjajahan Belanda yang sebagian besar masih sebatas penengah dan perumus ide yang hanya berfungsi sebagai sosialisasi politik dan komunikasi politik.
Jepang mempelopori berdirinya organisasi Poetra, namun nasib organisasi ini pada akhirnya juga ikut dibubarkan Jepang karena dianggap telah melakukan kegiatan yang bertujuan untuk memengaruhi proses politik.
Praktis sampai Proklamasi Kemerdekaan, masyarakat Indonesia tidak mengenal partai-partai politik.