Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Inggris Beri Visa Khusus untuk Lulusan Universitas Top Dunia, Indonesia Masuk Daftar?

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 02 Juni 2022 |10:00 WIB
Inggris Beri Visa Khusus untuk Lulusan Universitas Top Dunia, Indonesia Masuk Daftar?
Inggris berikan visa untuk lulusan universitas top dunia/Freepik
A
A
A

Selanjutnya, mereka berpeluang mendapatkan visa kerja jangka panjang lainnya apabila memenuhi syarat tertentu. Tidak ada batasan kuota untuk lulusan yang memenuhi syarat.

Universitas-universitas top yang terpilih

Untuk bisa terpilih mendapatkan visa ini, pelamar harus berasal dari universitas yang masuk daftar 50 besar dunia berdasarkan setidaknya dua dari tiga jenis peringkat yang dijadikan acuan pemerintah Inggris.

Acuan peringkat yang digunakan yakni Times Higher Education World University Rangkings, Quacquarelli Symonds World University Rangkings, dan Academic Ranking of World Universities.

Terdapat 37 universitas yang dipublikasikan oleh pemerintah Inggris, termasuk Universitas Harvard, Universitas Stanford, Universitas Yale, dan lain-lain. Mayoritas universitas yang masuk kategori itu berada di Amerika Serikat dan Eropa.

Hanya delapan universitas di Asia yang masuk daftar, yakni dari China, Hong Kong, Jepang, serta Singapura. Tidak ada universitas asal Indonesia yang muncul pada daftar tersebut.

Kedelapan universitas itu ialah Universitas Peking, Universitas Tsinghua, Universitas Tionghoa Hong Kong, Universitas Hong Kong, Universitas Kyoto, Universitas Tokyo, Universitas Teknologi Nanyang, serta Universitas Nasional Singapura.

Sejumlah akademisi menyatakan kecewa dengan tidak masuknya universitas dari Asia Selatan, Amerika Latin, atau Afrika. Mereka menyebut pendekatan itu sangat tidak adil.

Apabila Inggris ingin berperan mengatasi tantangan utama abad ini, seperti akses energi, perubahan iklim, dan pandemi, "maka Inggris perlu mengenali dan menyertakan beragam keterampilan dan wawasan dari lulusan universitas di negara-negara berkembang," kata direktur dan peneliti utama di Universitas Cape Town, Christopher Trisos kepada BBC.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement