Share

Kisah Dina Agustin, Anak Tukang Mi Ayam dan Balon di Indramayu Raih Prestasi Internasional

Andrian Supendi, MNC Portal · Senin 23 Mei 2022 16:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 23 65 2598871 kisah-dina-agustin-anak-tukang-mi-ayam-dan-balon-di-indramayu-raih-prestasi-internasional-yKzpYDZf4n.jpg Ilustrasi/Pixabay

INDRAMAYU - Menjadi anak tukang mi ayam dan balon adalah bukan halangan bagi Dina Agustin (22) untuk meraih prestasi gemilang.

Atlet pencak silat asal Kabupaten Indramayu yang terlahir dari keluarga sederhana ini justru menjadikan nasib hidup dan keluarganya sebagai modal pendorong semangat bagi dirinya meriaih gelar juara.

Tahun ini Dina Agustin pun membuktikannya dengan berhasil menjadi Juara 1 Kategori Tanding Putri Mahasiswa Kelas B Putri Kejuaraan Pakubumi Open 9 Internasional di GOR ITB Jatinangor, Sumedang.

Tak hanya itu, sebelumnya pada tahun 2020, Dina Agustin juga merupakan peraih Juara 1 Kaategori Tanding Putri Mahasiswa Kelas B Putri Kejuaraan Pakubumi Open 9 Internasional di GOR Laga Tangkas Pakansari, Bogor.

Serta pada tahun 2019, ia juga menjadi Juara 1 Kategori Tanding Putri Mahasiswa Kelas B Putri Kejuaraan Silat Nasional di Bekasi.

Meski ibunya bekerja sebagai pedagang mi ayam dan mendiang ayahnya berdagang balon serta kerja serabutan, kesederhanaan ini nyatanya telah mengubah sosok Dina menjadi gadis yang tangguh dan disegani.

Ia pun menjadi gadis tangguh karena ditempa keadaan.

Dina menceritakan tetang perjalanan karier olahraganya yang ia sebut sebagai mewujudkan mimpi.

Padahal, menurutnya, bermimpi meraih capaian prestasi sampai ke level tinggi tidak pernah terlintas di benaknya.

Sejak bersekolah Dina mengaku menyukai olahraga. Mulai SD hingga SMP, Dina rajin berlatih olahraga badminton, futsal dan pencak silat.

Semuanya Dina tekuni sampai kemudian menjatuhkan pilihan lebih serius pada olahraga pencak silat.

"Saya mulai berlatih keras pencak silat sejak duduk di bangku SMP. Namun tidak mulus-mulus amat, sebab setiap kali berlatih saya harus sembunyi-sembunyi dari orang tua," ujar dia, Minggu (22/5/2022).

Entah alasannya apa, kedua orang tua rupanya tidak setuju kalau Dina berlatih pencak silat.

"Bapak dan ibu tidak setuju, dan itu berlangsung sampai kelas 2 SMA. Sebab saat kelas dua SMA begitu ada panggilan ikut kejuaraan dan seleksi provinsi, bapak dan ibu akhirnya merestui," tutur Dina.

Sejak saat itu perjalanan karier Dina di pencak silat semakin cemerlang. Ia menjadi juara mulai tingkat regional, nasional bahkan internasional.

"Semua prestasi ini saya didedikasikan untuk mendiang ayah saya yang sudah tiada," ungkap Dina.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini