Share

La Nyalla Sebut Alasan Indonesia Butuh Pengusaha Baru di HUT ke-11 Kadin Institute

Lukman Hakim, Koran SI · Sabtu 21 Mei 2022 15:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 21 624 2597944 la-nyalla-sebut-alasan-indonesia-butuh-pengusaha-baru-di-hut-ke-11-kadin-institute-FqqRNrXpQr.jpg Ketua DPD RI, AA La Nyalla Mahmud Mattalitti di HUT ke-11 Kadin Institute/Lukman Hakim

SURABAYA - , AA La Nyalla Mahmud Mattalitti mengungkapkan penumbuhan wirausaha muda harus dilakukan, pasalnya jika tidak dilakukan pengusaha Indonesia akan tertinggal.

Hal ini disampaikan olehnya saat menghadiri HUT ke-11 Kadin Institute bertemakan 'Komitmen Bersama Melalui Vokasi Mewujudkan SDM Unggul dan Berdaya Saing' di Graha Kadin Jatim, Sabtu (21/5/2022).

Hadir pula Gubernur Jatim yang diwakili Kepala Disperindag Drajat Irawan, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto, Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti, Presiden Direktur PT Maspion Group Alim Markus.

Ada juga Kepala BNSP Kunjung Masehat, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, Bupati Gresik Fandi Akhmad, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jatim Budi Hanoto, Perwakilan PT HM Sampoerna Puguh, dan sejumlah perwakilan dari universitas di Jatim dan tamu undangan lainnya.

Sebagai pendiri Kadin Institute pada 11 tahun lalu, La Nyalla mengaku yang ada di benaknya adalah berupaya sekuat mungkin untuk mempercepat lahirnya pengusaha baru di Indonesia, terutama di Jawa Timur.

Sebab, jumlah pengusaha di Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

"Saat itu, jumlah pengusaha di Indonesia masih di kisaran 3 persen dari total jumlah penduduk. Sementara Malaysia dan Thailand sudah di kisaran 4 persen. Sedangkan Singapura sudah mencapai angka 8 persen lebih," papar La Nyalla.

Berangkat dari fakta tersebut, Senator asal Jawa Timur itu ingin membuat dapur atau workshop yang menggodok kelahiran calon-calon pengusaha baru melalui Kadin Institute.

Dalam perkembangannya, La Nyalla menyebut Kadin Institute menjadi salah satu pusat pengembangan dan pendidikan vokasi.

"Bahkan menjadi proxy bagi Kadin-Kadin Provinsi lainnya di Indonesia, selain Kadin kabupaten/kota di Jawa Timur," papar La Nyalla.

Saat ini, Kadin Jatim telah mendirikan Rumah Kurasi untuk UMKM. Hal itu amat bermanfaat untuk menghadapi ledakan populasi jumlah penduduk usia produktif.

Ledakan tersebut, kata La Nyalla, akan mulai kita rasakan di tahun 2030 nanti hingga puncaknya di tahun 2045, tepat saat Indonesia berusia 1 abad.

"Pemerintah menyebut ledakan jumlah penduduk usia produktif tersebut dengan sebutan bonus demografi," urainya.

Namun La Nyalla mengingatkan agar hal tersebut dikelola dengan baik. Sebab jika tidak, bukan bonus demografi, malah yang terjadi sebaliknya yakni bencana demografi.

Dikatakannya, melimpahnya usia produktif bisa menjadi peluang, karena dapat menggenjot pertumbuhan sekaligus pemerataan perekonomian negara.

Tetapi sebaliknya, jika besarnya usia produktif tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan pekerjaan, maka hal itu justru akan berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran dan permasalahan sosial lainnya, salah satunya meningkatnya angka kemiskinan.

"Oleh karenanya, ledakan usia produktif itu harus dibarengi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal. Jika tidak, maka akan menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara," tutur La Nyalla.

Pada titik itu, La Nyalla menilai pentingnya pendidikan vokasi. Namun, pendidikan vokasi saja tak cukup.

Sebab, pendidikan vokasi adalah menyiapkan kondisi link and match antara dunia pendidikan dengan dunia usaha dan industri.

"Masih ada variabel yang tidak kalah penting, yaitu iklim dunia usaha dan dunia industri itu sendiri. Kalau sektor manufaktur di Indonesia atau khususnya Jatim melemah, tentu tenaga terdidik terampil juga tidak terserap," ujarnya.

Apalagi, sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia masih menempati urutan ke-10 ranking nilai tambah industri manufaktur.

"Masih di bawah China, Amerika, Jepang, Jerman, India dan Korea Selatan serta Italia, Perancis dan Brazil," terang La Nyalla.

Sementara untuk iklim dunia usaha terbaik, masih didominasi negara-negara di Eropa, dengan Jerman sebagai pemimpin. Sedangkan di luar Eropa, masih tetap didominasi Amerika Serikat dan Jepang.

"Artinya, peluang output dari program pendidikan vokasi, tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan dalam negari, tetapi juga harus diorientasikan untuk menjadi tenaga terampil di luar negeri," beber La Nyalla.

La Nyalla yang baru kembali dari kunjungan kerja ke Arab Saudi, mengatakan terbuka peluang sekitar 8 juta tenaga terampil dan profesional untuk bekerja di Arab Saudi, dan diutamakan tenaga kerja Muslim.

"Ini tentu peluang bagi Indonesia," tegas La Nyalla.

Sebab, orientasi tenaga kerja ke luar negeri sudah dilakukan oleh negara-negara dengan jumlah penduduk besar, seperti Amerika Serikat, China dan India.

"Mereka sudah lebih dulu menyiapkan tenaga kerjanya untuk ekspansi ke luar negaranya. Di Indonesia, tidak terhitung banyaknya tenaga profesional dari negara-negara tersebut. Bahkan China sekarang sudah memasukkan tenaga non-profesional melalui program-program turn key project mereka di beberapa negara, di Asia dan Afrika," imbuhnya.

Ia meyakini, Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan menjadi sentral dunia. Hal itu terjadi jika Indonesia mengoptimalkan keunggulan komparatif yang kita miliki.

"Yakni sektor pangan yang terdiri dari pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan. Lalu juga keanekaragaman hayati hutan," terangnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini