JAKARTA - Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) memandang tanggal 20 Mei sebagai momen refleksi kepemimpinan nasional, selain sebagai peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PB HMI, M. Ichya Halimudin, Jumat (20/5/2022).
“Harkitnas diambil dari momen sejarah berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Wadah ini dipercaya menandai awal perjuangan bangsa dengan cara berorganisasi. Karena itu, momen ini juga memiliki arti tersendiri bagi HMI sebagai organisasi kemahasiswaan,” jelas Ichya.
Ichya memandang bahwa organisasi adalah tempat lahirnya pemimpin. Di sinilah seseorang dikader untuk menjadi pemimpin, minimal jadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Baca juga: Jadi Irup Hartiknas di Balai Kota, Wagub Ariza Gelorakan Semangat Boedi Oetomo
“Karena itu, momen kebangkitan nasional juga harus dimaknai sebagai momen refleksi kepemimpinan nasional. Di hari ini kita perlu mempertimbangkan kembali kriteria pemimpin seperti apa yang kita harapkan bisa membawa Indonesia untuk benar-benar bangkit bersama ke depannya,” terangnya.
Baca juga: Pemkot Yogyakarta Maknai Kebangkitan Nasional Awal Pemulihan Ekonomi-Kesehatan
Lebih lanjut Ichya menjelaskan seperti namanya, Boedi Oetomo yang berarti kepribadian luhur, maka kriteria pemimpin nasional yang utama haruslah orang yang berpribadi luhur.
“Kualitas luhur yang dimiliki yakni setidaknya ia mampu menjaga keharmonisan hubungan antara keagamaan dan kebangsaan, yang beberapa tahun terakhir disalahgunakan dalam politik identitas. HMI mengecam segala bentuk upaya yang membenturkan kedua hal tersebut,” tegasnya.
Di samping itu, Ichya memandang bahwa kualitas lain kepemimpinan nasional yang juga perlu dimiliki adalah wawasan nasional, tetapi dengan pengalaman internasional. Seperti halnya kemampuan menjaga hubungan keagamaan dan kebangsaan, kualitas pemimpin nasional juga harus mampu menyeimbangkan wawasan nasional dan internasional. Ia dihormati bukan hanya di Indonesia, tapi juga di mata dunia.
“Namun demikian, jangan lupa bahwa kepemimpinan juga adalah persoalan regenerasi. Pemimpin nasional ideal juga sebaiknya orang yang mampu menginsipirasi generasi di bawahnya, sebagai calon-calon pemimpin di masa datang. Karena itu, ia haruslah sosok yang juga akrab dengan kelompok generasi muda, milenial, gen-z atau semacamnya, sebagai calon penerus visi kepemimpinannya," pungkas Ichya.
(Susi Susanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik