Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mendikbudristek Dorong Pembukaan Sekolah di Sumut Diperluas hingga 80 Persen

Wahyudi Aulia Siregar , Jurnalis-Selasa, 26 Oktober 2021 |11:44 WIB
Mendikbudristek Dorong Pembukaan Sekolah di Sumut Diperluas hingga 80 Persen
Mendikbud Nadiem Makarim (Foto: Okezone)
A
A
A

MEDAN - Sekira 47% sekolah di Sumatera Utara (Sumut) telah melakukan kegiatan pembelajaran secara tatap muka (PTM). Sekolah yang menggelar pembelajaan tatap muka (PTM) didominasi tingkat SMP dan SMA.

Namun, Pemprov Sumatera Utara akan memperluas PTM ke tingkat SD dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Untuk itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan vaksinasi pelajar.

“Kita akan upayakan mempercepat vaksinasi untuk pelajar, sejak kurang lebih tiga bulan lalu kita terus dorong ke pelajar agar PTM semakin luas. SD dan PAUD kita akan pertimbangkan karena anak-anak ini sangat butuh tatap muka di usianya,” kata Gubernur Edy Rahmayadi, usai rapat dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim di Aula Tengku Rizal Nurdin, Senin, 25 Oktober 2021 kemarin.

Hingga 23 Oktober 2021 kata Edy,, ada 22 kabupaten/kota di Sumut yang berada di level 3, kemudian sembilan kabupaten/kota level 2 dan dua kabupaten/kota level 1. Sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri PTM bisa dilakukan daerah di bawah level 4. Karena itu, Pemprov Sumut akan mendorong peningkatan PTM terbatas dan memperkuat pengawasan protokol Kesehatan.

“Tentu ada persyaratan yang harus dipenuhi seperti vaksinasi tenaga pengajar dan pelajar. Belajarnya juga dua kali seminggu dan dua jam per hari, dan tidak diperbolehkan buka kantin. Kita akan dorong sekolah-sekolah untuk memenuhi syarat-syarat PTM,” kata Edy.

Baca juga: Melihat Penerapan Prokes Ketat saat PTM di Kota Solo

Sementara itu, Mendikbudristek Nadiem Makarim berharap, PTM terbatas di Sumut bisa segera meningkat ke angka 80%. Dia juga menekankan agar SD dan PAUD segera diberlakukan PTM, karena menurutnya dampak sekolah jarak jauh sangat besar untuk anak-anak SD dan PAUD.

Baca juga: PPKM Level 2, Sejumlah Sekolah di Palangkaraya Mulai PTM Terbatas

“Riset kita dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) kita kehilangan 1 tahun pembelajaran. Bisa permanen dampaknya dan ini bisa menyebabkan learning loss terbesar dalam sejarah Indonesia, belum lagi yang putus. Dan ternyata dampak terbesar PJJ paling besar pada anak SD dan PAUD, mereka yang paling butuh tatap muka, dampaknya bisa permanen,” kata Nadiem, pada pertemuan yang juga dihadiri Bupati/Walikota se-Sumut secara virtual.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement