2 Profesor Asal Indonesia Kembangkan Teknologi VR untuk Kedokteran Gigi di AS

Agregasi VOA, · Kamis 20 Mei 2021 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 65 2412677 2-profesor-asal-indonesia-kembangkan-teknologi-vr-untuk-kedokteran-gigi-di-as-yKMf6Muiik.png Program realitas maya simulasi implan gigi (foto: Markus Santoso)

Libatkan Mahasiswa

Proses mulai dari mematangkan ide hingga menjadi sebuah prototipe, memakan waktu beberapa bulan sepanjang 2020, dan melibatkan puluhan mahasiswa UIC dan UFL.

“Jadi masalah real-world nya dari beliau, saya bawa ke kelas saya, kelas kita mikir, dibawa lagi ke beliau, beliau tes, riset dan seterusnya,” kata Markus, yang sejak 2018 mengajar di jurusan Digital Worlds Institute UFL.

Prototipe yang dikembangkan oleh Markus dan para mahasiswanya, kemudian diujicoba oleh Cortino dan beberapa mahasiswanya, termasuk Stephanie Schreiber.

“Sebagai mahasiswi, program simulasi implan membantu saya mempelajari urutan pemasangan implan gigi dengan seolah-olah berada di dalam klinik betulan sebagai dokter gigi,” kata perempuan yang baru saja lulus tahun ini.

Cortino menambahkan, “Mereka (fakultas) percaya ini bisa digunakan untuk meningkatkan pendidikan kedokteran gigi. Walaupun mereka juga percaya ini hanya berlaku sebagai tambahan aja. Mereka tetap percaya bahwa temu muka itu harus,” ujar pemilik gelar PhD dari Universitas California Los Angeles ini.

Alternatif di Tengah Pandemi

Meski tak bisa menggantikan efektivitas pembelajaran tatap muka sepenuhnya, tapi para dosen ini menggarisbawahi potensi AR/VR dalam pendidikan kedokteran gigi, apalagi di tengah pandemi virus corona dan pembatasan sosial.

Markus, yang meraih gelar PhD dari Universitas Dongseo Korea Selatan mengatakan, “Waktu Covid, lockdown, semua mahasiswa ngga bisa ke lab, juga ngga bisa bawa peralatan ke rumah, karena besar-besar dan mahal-mahal.”

“Dengan metode ini mereka bisa belajar sendiri di rumah, tidak ada batasan waktu dan tempat,” tambah Cortino, yang pernah mengajar beberapa tahun di Universitas Harvard.

Hasil riset mereka yang berjudul “Faculty perceptions of virtual reality as an alternative solution for preclinical skills during the pandemic,” telah dirilis dalam Journal of Dental Education pada November 2020.

Mereka juga telah mempresentasikannya dalam beberapa seminar di AS, termasuk yang diadakan oleh American Dental Education Association (ADEA).

Selain simulasi implan gigi, kedua akademisi ini juga telah mengembangkan eTypodont, sebuah perangkat AR untuk melakukan simulasi implan gigi. Kini mereka juga sedang mengembangkan beberapa program social VR, yang memungkinkan pengajar dan mahasiswa berinteraksi di sebuah klinik virtual yang sama, serta simulasi dialog dengan pasien.

Cortino mengatakan, perlu waktu 3-5 tahun untuk menyempurnakan prototipe-prototipe ini. Mereka berharap upaya-upaya ini bisa merevolusi pendidikan kedokteran gigi di masa depan. “Saya optimis lihat ini akan jadi mainstream,” pungkas Markus.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini