Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ventilator Karya Mahasiswa Universitas Gunadarma Efektif Bantu Pasien Kritis COVID-19, Ini Penjelasannya

Wilda Fajriah , Jurnalis-Rabu, 29 April 2020 |07:00 WIB
Ventilator Karya Mahasiswa Universitas Gunadarma Efektif Bantu Pasien Kritis COVID-19, Ini Penjelasannya
Universitas Gunadarma (Foto: Ist)
A
A
A

Alat ini sangat diperlukan oleh para tenaga medis dirumah-sakit di Indonesia dengan kelengkapan alat mini komunikasi serta minum tanpa membuka master tersebut.

Dengan kondisi saat ini, Adang pun menjelaskan poin-poin penting yang harus dimiliki dari sebuah ventilator untuk dapat digunakan secara efektif khususnya untuk pasien yang mungkin dalam kondisi sangat kritis sekalipun.

"Pasti yang pertama dia sifatnya mobile, kemudian bisa dipakai dalam kondisi yang memang nanti sesuai dengan kondisi pasien. Artinya bisa kita adjust karena setiap pasien yang datang ke kita dengan kelainan nafas, apakah itu sulit nafas sampai dengan gagal nafas itu kondisinya berbeda secara patologi. Sehingga alat ini harus bisa meng-adjust apakah itu semi manual atau secara otomatis sehingga menyesuaikan dengan kebutuhan pasien," tuturnya.

Insinyur Yohanes Kurnia yang juga turut membantu dalam pembuatan Ventilator juga mengatakan jika produk ini merupakan produk lokal buatan anak bangsa, dimana sekitar 80 persen adalah TKDN-nya Indonesia kemudian sisanya sekitar 20 persen di import dari luar negeri.

"Jadi kami ini semua 80 persen adalah TKDNnya indonesia, sisanya 20 persen kita impor. Tapi memang impornya juga yang ada dipasaran sehingga sangat mudah sekali untuk didapatkan," jelasnya.

Yohanes melanjutkan penjelasan singkatnya adalah alat ventilator ini dibuat secara konsuksi dengan menggunakan akrilik dan 3D printed yang dimana semuanya knockdown. Sehingga dipastikan tidak ada sistem lem sebab hanya menggunakan scrup, mur dan baut.

"Kemudian 3D printednya sendiri sangat aman karena menggunakan PLA yang dibuat dari jagung sintesis, kemudian sistem motorizenya itu kita menggunakan motor yang bisa diatur sampai dengan 1,8 derajat per stepnya sehingga sangat mudah bagi kami bisa up and down. Sebelah kiri tekan yang sebelah kanan tekan. Dan diharapkan dalam 3/4 detik atau 1/2 detik bisa tercover perbandingan rationya," ujarnya.

Yohanes pun menjelaskan perbedaan antara ventilator yang dibuat oleh karya anak bangsa ini dengan ventilator yang ada di rumah sakit. Ia mengatakan, jika sudah jelas perbedaannya terlatak pada low cost, bisa dibongkar pasang dan sangat hemat.

"Perbedaannya kami mungkin labih ke portabel , jadi bisa dibawa kemana-mana dan perbedaan dengan ventilator pada umumnya adalah mungkin terletak ada small size-nya, kami sudah bisa membuat simulasi ventilator pada umumnya," jelasnya lagi.

Saat ini Universitas Gunadarma sudah membuat 5 prototipe yang terdiri dari 1 sampai 5 prototipe. Namun dikatakan Yohanes prototipe ke 5 yang paling efisien sehingga 1-4 kurang yang dibuat tidak akan diteruskan.

"Kemudian kami akan lakukan pengujian pada pasien karena sampai saat ini kita sudah sampai kepada tahap bagaimana menyinkronkan dengan posisi tes selang kemudian nanti akan dicobakan kepada pasien," paparnya.

Pengembangan alat kesehatan ini mendapat dukungan penuh dari pimpinan Universitas Gunadarma. Produk yang dihasilkan ini menjadi karya anak bangsa Indonesia, yang diharapkan ke depan bisa berkontribusi membantu menyediakan alat kesehatan, yang sekaligus menunjukkan sinergitas antara pihak akademisi dan industri.

“Alat PAPR ini sangat diperlukan oleh para tenaga medis di rumah sakit di Indonesia dengan kelengkapan alat mini komunikasi serta minum tanpa membuka master tersebut dengan tetap terlindungi dari virus dan bakteri,” tekan Yohanes Kurnia.

Biaya yang dikeluarkan dalam satu produksi ventilator pun bisa dikatakan murah karena untuk satu biaya produksi atau biaya modalnya lebih kurang dari 10 persen biaya ventilator yang asli. Selain itu, pemasangan ventilator ini pun sangat mudah dan cepat.

"Sangat mudah, karena kita memasang furniture atau perabotan jadi kami memang sengaja ingin membuat bagaimana kalo memang dibawa ke tempat yang tidak jauh, orang-orang yang disana dengan instruksi yang cukup memadai bisa memasangnya dengan cepat," katanya.

Meski kedepannya ventilator ini akan diproduksi, namun hingga kini Yohanes dan tim belum menawarkan alat bantuan pernapasan ini kepada pihak kementrian kesehatan.

"Saat ini kami ajukan dan tawarkan karena belum sempat. Saat ini kami masih fokus keliling rumah sakit menemui dokter untuk mendapatkan saran yang dibutuhkan mereka," tutupnya. (cm)

(fmi)

(Fahmi Firdaus )

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement