“Tak hanya mengurangi sampah, hal ini juga berguna untuk menghentikan penyebaran bakteri seperti Salmonella spp,” ujar alumni Swedish University of Agricultural Sciences ini.
Lanjutnya, Forward memanfaatkan siklus hidup alami jenis lalat tentara hitam dan iklim hangat di Indonesia yang cocok untuk pertumbuhannya. Makanan lalat sendiri dibuat dengan memotong kecil sampah organik yang sudah dikumpulkan. Selanjutnya, menyesuaikan kadar air hingga mencapai 70%. “Setelah itu, baru kita masukkan ke dalam kontainer diiringi larva lalat,” tambah pria yang mengambil fokus studi pembangunan berkelanjutan ini.

Setelah 12 hari, larva lalat diambil, sehingga menyisakan residu dalam kontainer. Residu tersebut dapat dijadikan kompos maupun diproduksi menjadi biogas. Kemudian, larva yang baru dipanen diproses dengan bahan lain untuk membuat makanan ternak.
“Tujuan kami tidak sebatas mengatasi banyaknya sampah organik di Surabaya, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual,” tutur Bram Dortmans.
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik