“Kita bandingkan dengan yang di indonesia. Untuk desain robot besar selalu menabrak halangan rintangan. Maka kita bikin robot sekecil mungkin,” tuturnya.
Baca Juga: Siapkah Anak-Anak Indonesia Hadapi Era Robotik di 2030?
Sementara Rohmansyah mengaku bahwa hardware adalah kunci utama dari program dan mekanik sehingga robot itu bisa jalan. Dia mengatakan, arus dan tegangan harus dibuat seksama sehingga robot bisa berjalan di ruangan berlabirin dan bisa menemukan sumber api berdasarkan sensor. Setelah memadamkan api, robot diset untuk kembali ke titik awal. Robot dengan catatan tercepat bakal keluar sebagai pemenang.
“Acuannya berdasarkan suhu ruangan. Ketika dibandingkan dengan ruangan lain beda, maka di situ dianggap ada api. Setelah itu mencari posisi api berdasarkan sensor,” jelasnya. (Neneng Zubaidah)
(Rani Hardjanti)