Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harvard Jadi Kampus Pencetak Miliarder Terbanyak

Koran SINDO , Jurnalis-Selasa, 29 Januari 2019 |11:59 WIB
Harvard Jadi Kampus Pencetak Miliarder Terbanyak
Foto: Koran Sindo
A
A
A

Selain itu, miliarder Warren Buffett juga pernah belajar selama dua tahun di sana sebelum pindah ke Universitas Nebraska. Universitas Columbia menghasilkan 53 miliarder. Salah satu miliarder yakni Warren Buffett dengan nilai kekayaan USD60,8 miliar (Rp855 triliun) yang meraih gelar masternya dari Columbia. Kemudian, pemilik New England Robert Kraft dan miliarder real estate Jerry Speyer yang memiliki Manhattan Landmarks Rockefeller Center dan the Chrysler Building, lulus dari Columbia pada 1962 dengan gelar sarjana bahasa Jerman. Massachusetts Institute of Technology (MIT) mencapai 37 miliarder.

Charles Koch dan David Koch dengan nilai kekayaan USD39,6 miliar (Rp577 triliun) meraih gelar sarjana dan masternya dari MIT. Kemudian, Uni versitas Cornell menciptakan 35 miliarder. Untuk Universitas Yale mencetak 31 miliarder, di antaranya CEO Blackstone Stephen Schwar z man dan pendiri FedEx Fred Smith. Smith memiliki ide untuk mendirikan jaringan pengiriman barang saat kuliah. The Wealth menyebut, Universitas Souther California menghasilkan dengan 29 miliarder, Universitas Chicago sebanyak 29 miliarder, Universitas Michigan sekitar 26 miliarder, dan Universitas California, Ber kely dengan 25 miliarder.

harvard

Dukungan Kemampuan Kuantitatif

Di Indonesia, sejumlah kampus juga menggenjot materi perkuliahan yang mendorong lulusan bisa memiliki penguasaan kewirausahaan. Bahkan beberapa kampus eksakta juga memberi perhatian besar pada sektor ini, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI). Tak mengherankan, dalam beberapa tahun terakhir, kampus ini melahirkan sejumlah pengusaha. Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi ITB Miming Mihardja mengakui kampusnya beberapa tahun terakhir melakukan pengembangan mata kuliah kewirausahaan, terutama di Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB.

Kurikulumnya pun diarahkan untuk membangun kewirausahaan. Sementara untuk mahasiswa dari program studi umum, ITB juga mendorong mahasiswa ikut program inkubator bisnis. Seperti pada Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) serta Working Space. “Itu menampung mahasiswa yang punya ide bisnis apapun bisa sharing knowledge dan kemudian di bina. Ketika nanti sudah matang, bisa spin off. Kami juga sering mengadakan kuliah tamu. Kami undang entrepreneur sukses,” beber dia.

Penguasaan ilmu eksakta saja tidak cukup, tetapi juga harus mengerti bagaimana pahami sisi bisnis. Karena tanpa memahami ilmu penjualan, nanti nilai ekonominya bisa diambil bangsa lain. Universitas Indonesia (UI) pun melakukan berbagai upaya untuk menciptakan wirausaha mumpuni. Mulai pembekalan akademik hingga pendampingan ke dunia industri. Dari sisi akademik, UI telah memberikan mata kuliah terkait kewirausahaan. “Adanya berbagai mata kuliah terkait kewirausahaan di berbagai fakultas di UI. seperti technopreneur, kewirausahaan untuk kesehatan,” kata Rektor UI M Anis.

Selain itu UI juga mengusahakan pendanaan hibah baik dari internal maupun eksternal semisal dari Kemenristek- Dikti. Tujuannya adalah mendongkrak jumlah wirausaha muda Indonesia. Ada berbagai hibah pendanaan baik inisiatif dari program UI sendiri maupun dari Kemenristek-Dikti.

(Andika Hendra/Arif Budianto/R Ratna Purnama)

(Rani Hardjanti)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement