JAKARTA - Kuliah di luar negeri selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi mahasiswa internasional, baik dalam keadaan suka maupun duka. Perbedaan budaya, bahasa, kebiasaan, sampai makanan menjadi beberapa faktor penyebab mahasiswa Indonesia sulit beradaptasi di luar negeri.
Seorang mahasiswa Indonesia di Turki bernama Yafiq Mursyid juga sempat mengalami culture shock pada awal kedatangannya di negara tersebut. Pasalnya, kehidupan di sana sudah banyak mengadopsi budaya barat.
"Untung saja di Turki mayoritas penduduknya beragama Islam, jadi tidak susah mencari masjid dan makanan halal. Tapi, saya sangat kewalahan terkait bahasa. Kebanyakan orang Turki paham bahasa Inggris, tapi kalau bicara tetap pakai Bahasa Turki. Padahal saya sama sekali tidak bisa bahasa Turki," papar Yafiq kepada Okezone, baru-baru ini.
Akibat belum bisa berbahasa Turki, penerima beasiswa Pemerintah Turki di Istanbul University itu sempat takut bepergian sendiri. Sebab, jika tersesat, maka sudah dipastikan dia tidak bisa meminta pertolongan. Beruntung, di Istanbul terdapat perhimpunan pelajar Indonesia yang bersedia mengajari bahasa Turki dasar untuk percakapan sehari-hari.
"Saya sungguh-sungguh mempelajari bahasa Turki karena tidak mungkin terus-terusan menyusahkan orang lain. Kurang lebih belajar selama enam bulan. Yang penting itu untuk menawar kalau lagi belanja," ucap mahasiswa pascasarjana itu.
Selama kuliah di Istanbul, Yafiq tinggal di asrama kampus bersama dua temannya. Namun, keduanya bukan dari Indonesia, melainkan dari Rusia dan Turki. Dalam komunikasi sehari-hari, ketiganya lebih sering menggunakan bahasa Turki. Hal tersebut membuat dia semakin terbiasa dan fasih berbahasa Turki.
Sedangkan untuk soal makanan, Yafiq mengaku sering kangen dengan masakan Indonesia. Menurut dia, masakan Indonesia lebih enak karena banyak bumbunya. "Sedangkan di sini saya dihadapkan dengan makanan yang bumbunya minimalis," tuturnya.
Sementara perhimpunan pelajar Indonesia di Turki, kata Yafiq, menjadi keluarganya selama menimba ilmu di sana. Meski sehari-hari jarang bertemu lantaran kesibukan masing-masing, mereka tetap menyempatkan waktu untuk kumpul-kumpul.
"Memang di sini sifatnya koordinatif, karena mahasiswa Indonesia di seluruh Turki bisa mencapai 300 orang dan tersebar di berbagai kota. Kalau mengadakan acara atau kumpul bareng biasanya lebih sering dari perhimpunan pelajar di kota tersebut. Saya sendiri masuk ke perhimpunan pelajar Indonesia di Istanbul," tandasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik