Rektor UBL Profesor Hapsoro menekankan bahwa nilai-nilai kebudiluhuran merupakan nilai-nilai universal yang tidak berdasarkan perspektif ajaran agama tertentu. Nilai-nilai tersebut dikembangkan di Kampus UBL melalui tiga matra yakni pertama, menjadikan peserta didik untuk menjadi manusia berbudi luhur (learning to be) dengan pengenalan nilai-nilai budi luhur saat mahasiswa baru masuk melalui orientasi pendidikan.
Kedua, berkarya atau berbudi pekerti luhur diajarkan melalui Wawasan Budi Luhur agar mahasiswa mampu menerapkan kompetensi keilmuannya yang sesuai dengan nilai-nilai budi luhur. Ketiga, budi luhur dalam berkehidupan bersama yakni ketika mahasiswa sudah lulus maka diharapkan mampu mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan umat manusia dan sesame ciptaan-Nya.
”Dengan demikian maka Budi Luhur membawa kebaikan, kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan,” kata Rektor UBL.
Ketua Pusat Studi Kebudiluhuran Rusdiyanta menyampaikan laporannya bahwa lomba esai ini diikuti oleh 31 peserta dari lima fakultas yakni FTI, FE, FISIP, FT, FIKOM, dan ASTRI. Tujuan diadakan lomba ini adalah untuk menggali ide-ide kreatif mahasiswa tentang nilai-nilai budi luhur, melatih kemampuan mahasiswa dalam menuangkan gagasan melalui tulisan dan lisan dalam sosialisasi nilai-nilai budi luhur.
“Agar mahasiswa mampu menemukan sendiri nilai-nilai budi luhur dari pengalaman sendiri, bukan dari pihak lain,” katanya.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik