Dicari, Sekolah Ramah Anak

Sabtu 11 Juli 2015 19:05 WIB
https: img.okezone.com content 2015 07 11 65 1180092 dicari-sekolah-ramah-anak-PObStPGKA5.jpg Sekolah ramah anak sebaiknya memfasilitasi pengembangan potensi anak didik di semua bidang. (Foto: dok. Okezone)

BARANG kali kita pernah menemui fenomena ini. Ketika bel pulang sekolah mengudara, terdengar sorak gembira dari ruang kelas, peserta didik pun tampak semangat mengemasi perlengkapan belajar. Peristiwa itu terjadi tidak hanya sekali namun hampir kerap berulang. Ada apa ada di balik ekspresi kegembiraan peserta didik tatkala mendengar bel pulang sekolah?

Membaca fenomena itu seakan bel pulang sekolah merupakan lonceng kemerdekaan bagi peserta didik. Pembelajaran yang dibatasi oleh tembok-tembok sekolah, seolah mereka merasa terpenjara. Rasanya sekolah formal maupun non-formal yang belum menjadi wahana yang nyaman dan kondusif dalam proses pembelajaran tak perlu dipertahankan.

Sekolah yang memiliki niatan memerdekakan peserta didik dari belenggu kebodohan, namun dalam praktiknya tidak jarang mengabaikan sisi kejiwaan yang lain. Peserta didik secara kejiwaan tak cukup memiliki kemahiran di bidang intelektual tetapi mereka butuh ekspresi sisi kejiwaan yang lain. "Pagar-pagar" yang menghalangi tumbuh kembang keceriaan peserta didik sesegera mungkin dirobohkan.

Sistem pembelajaran yang begitu sepanteng seperti an-sich mengejar target quota sebaiknya ditinggalkan. Cara seperti itu akan menjebak peserta didik memperlakukan mata pelajaran secara kaku, juga pesan pendidikan bisa meleset bahkan abai terhadap kenyataan hidup yang sesungguhnya. Akibatnya daya empati dan kearifan lokal peserta didik bisa berkarat, karena tak diasah dengan perbenturan realitas kehidupan yang sesungguhnya. Jika papan tulis pendidikan formal tetap ngotot membutakan peserta didik dari laku empati dan kepedulian terhadap sesama, maka pendidikan akan banyak panen lulusan yang menonjolkan sisi egoisme, apatisme, krisis kepekaan sosial.

Belajar itu tak sekedar menghafal, mengerjakan PR, diskusi kelas, melainkan praktik lalu evaluasi, perbaiki, kemudian praktik lagi dan seterusnya. Semua potensi kognisi, afeksi, ketauhidan saling berkoneksi dan tumbuh kembang di lahan yang luas dan subur.

 

Mengubah Cara Pandang

Disiplin ilmu psikologi positif menilai bahwa tidak ada anak yang malas. Semua anak itu rajin. Tidak sepatutnya peserta didik dipaksa untuk memahami semua mata pelajaran. Biarkan peserta didik memilih pelajaran yang disuka. Kalau peserta didik sudah jatuh hati dengan suatu mata pelajaran, tak usah disuruh pun pasti dia rajin mempelajari, menjelajah keilmuan yang menantang perhatiannya. Dan bukan tidak mungkin kelak dia akan menjadi seorang ahli di bidangnya. Banyak karya sepektakuler lahir dari orang yang sungguh-sungguh dan mencintai pekerjaanya, atau orang sekarang menyebutnya passion.

Memang salah satu cara untuk membentuk karakter pembelajar adalah dengan cara melakukan conditioning learning. Tetapi pengondisian belajar dengan cara memaksa peserta didik mengerjakan kemauan guru bukanlah satu-satunya cara menumbuhkan karakter pembelajar secara berkesadaran. Sebab tidak semua peserta didik nyaman dengan cara seperti itu.

Cara paksa itu lazim meninggalkan kesan tidak menyenangkan. Sebaiknya guru juga punya kesadaran kritis ketika akan memberikan tugas kepada peserta didik. Seperti menawarkan opsi-opsi yang bisa mereka sepakati. Poinnya adalah peserta didik akan belajar arti penting sebuah komitmen dan nalar argumentatif.

Sikap karakter pembelajar yang baik itu berlandaskan kesadaran. Bukan pemaksaan yang kemudian menimbulkan perasaan takut, khawatir bahkan dendam. Pun, adegan peserta didik dipermalukan di depan kelas jika melanggar peraturan sekolah atau tidak mengerjakan PR merupakan pembelajaran yang tidak sehat bagi kepribadian peserta didik. Itu sudah tidak zaman.

Memahami Disiplin

Sungguh ironis, ketika pendidikan bicara tentang keramahan anak, namun dalam praktiknya terjadi tindak kekerasan psikologis bahkan fisik yang barangkali dianggapnya disiplin. Pemahaman arti disiplin yang salah kaprah sebagian masih ada. Barangkali pemahaman dan praktik disiplin itu turunan model pembelajaran ala militer tempo dulu yang identik dengan kekerasan dan hukuman. Kendati demikian, atas nama apa pun, pemaksaan dan kekerasan di sekolah merupakan tindakan tidak dibenarkan.

Kita perlu memahami ulang arti disiplin dalam konteks pembelajaran yang ramah. Ya, disiplin itu bisa dimaknai tertib atau berkelanjutan dalam mengerjakan sesuatu. Tentu atas kesadaran yang muncul dari dalam diri anak didik. Inilah hal yag mesti disemai kepada peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga belajar bukan menjadi hal yang membosankan atau menjengkelkan, tetapi menyenangkan dan menantang. Wallahua'lam

 

Arif Rahman Hakim

Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Pegiat YKAD Institute Yogyakarta

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini