DEPOK - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan indeks integritas untuk menekan kecurangan dalam Ujian Nasional (UN). Indeks integritas ini mengedepankan kejujuran dalam ujian yang tidak lagi menjadi penentu kelulusan tersebut.
"Indeks integritas ini merupakan salah satu upaya agar UN berlangsung jujur," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Furqon, dalam konferensi pers Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Depok, Jawa Barat, Senin (30/3/2015).
Pengukuran indeks tersebut berdasarkan pola kesamaan jawaban pada UN. Jika kesalahan dalam UN tersebut seragam, maka dipastikan terjadi kecurangan.
Furqon menyebut, pengukuran ini bertujuan untuk mengurangi tindakan yang tidak sesuai dalam pelaksanaan UN. Sebab, hal terpenting dalam UN adalah kejujuran, bukan hasilnya.
"Penting bagi Kemendikbud mendidik siswa menjadi berintegritas, karena tanpa integritas akan tersisihkan dalam kancah global," imbuhnya.
Menurut Furqon, Kemendikbud akan memberi penghargaan kepada kepala sekolah yang indeks integritasnya tinggi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Nurhadi Amiyanto, mengatakan, pihaknya sudah menerapkan metode pengukuran kecurangan sejak beberapa tahun lalu.
"Jadi bisa dilihat kabupaten mana yang banyak melakukan kecurangan," kata Nurhadi.
Bagi Nurhadi, kejujuran merupakan hal utama dan tanpa kompromi. Mereka pun siap melakukan revisi jika ditemukan kecurangan.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, UN 2015 tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Kelulusan ditentukan oleh satuan pendidikan.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik