Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membangun Sikap Kritis

Membangun Sikap Kritis
Ilustrasi: mahasiswa di kampus. (Foto: dok. Okezone)
A
A
A

BERAGAM problematika yang melanda kehidupan kita takkan berlalu jika tidak dicari akar masalah kemudian dicari solusinya. Sebagai agent of change, mahasiswa juga seharusnya kritis dan menghadapi situasi ini. Dengan bersikap kritis, wawasan mahasiswa akan bertambah. Karakter mereka juga akan terbentuk menjadi pribadi yang bijak menangani masalah.

Salah satu caranya, dengan memanfaatkan kebebasan menyatakan pikiran sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 28E ayat 2. Tentu dengan memperhatikan etika dan menggunakan kalimat-kalimat santun.

Dengan berpendapat, bukan berarti mahasiswa berprofesi sebagai pengkritik. Ini merupakan tugas mahasiswa sebagai alat kontrol masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa harus mampu menunjukkan eksistensinya. Tidak sekadar menimba ilmu dan pengetahuan di ruang kelas, namun juga harus mampu berargumentasi dan mempertanggungjawabkannya. Bukankah itu generasi yang diharapkan bangsa ini?

Sikap kritis sejak dini juga membuktikan bahwa mahasiswa selalu siap menghadapi setiap persoalan. Saluran untuk berargumentasi pun telah dan selalu ada, misalnya melalui media-media sosial. Kebebasan yang telah diberikan ini mestinya ditanggapi positif oleh mahasiswa untuk mengembangkan intelektualitas ketimbang hanya menghabiskan waktu dengan bermain game atau melakukan hal-hal yang rekreatif. Maka, ada baiknya mahasiswa mulai melihat masalah-masalah yang ada dan mencoba mengkritisinya. Mahasiswa sebaiknya meluangkan waktu untuk melakukan hal positif demi masa depan. Dan membangun kekritisan ini bisa dimulai dengan belajar berdiskusi dengan siapa saja. Kalau bukan sekarang memulainya, kapan lagi?

Bersikap kritis berarti kita juga siap untuk maju. Kritis di sini bukan hanya dalam menyampaikan pendapat. Kritis juga berarti mahasiswa aktif mencari dan memberikan solusi.

Hal penting yang juga perlu dicatat adalah mahasiswa seharusnya bukan hanya pandai berargumen dan mempertahankannya tetapi harus bisa menerima pendapat orang lain pula. Agar tak sekadar mengkritik dengan kritis namun siap pula untuk dikritik.

Semua ini untuk kebaikan kita. Mari memulai membangun sikap kritis. Salam.

Wilibaldus Wae

Fakultas Hukum

Universitas Atma Jaya Yogyakarta

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement