Apakah Kehadiran AI Bikin Perguruan Tinggi Kehilangan Relevansi? Ini Kata Profesor NUS Business School

Rivan Nasri Rachman, Jurnalis
Rabu 07 Oktober 2026 15:38 WIB
NUS Business School. (Foto: Rivan Nasri Rachman/Okezone)
Share :

SINGAPURA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robotik yang masif kerap memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Salah satu pertanyaan terbesar yang sering mencuat adalah apakah kehadiran teknologi canggih ini pada akhirnya bakal membuat sistem pendidikan, khususnya perguruan tinggi, menjadi tidak lagi relevan atau diperlukan.

Profesor Johan Sulaeman, akademisi terkemuka dari Department of Finance, NUS Business School, sekaligus Director Sustainable and Green Finance Institute (SGFIN) National University of Singapore (NUS), memberikan pandangan tegas terkait isu tersebut. Ia meyakini bahwa institusi pendidikan tinggi tetap akan memegang peranan krusial dan tidak akan tergantikan oleh mesin.

NUS Business School. (Rivan Nasri Rachman/Okezone)

1. Pendidikan Tinggi Tetap Relevan

"Apakah pendidikan yang lebih tinggi akan menjadi tidak relevan? Saya tidak mengira begitu. Saya pikir pendidikan adalah media yang sangat interpersonal yang menghantar, atau memberikan pendidikan," ujar Profesor Johan kepada Okezone di Singapura, Rabu (7/10/2026).

Profesor Johan juga mengenang kembali pembelajaran empiris yang didapat saat dunia dilanda pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu. Percobaan pengajaran jarak jauh secara penuh terbukti tidak mampu sepenuhnya menggantikan kehadiran fisik di dalam kelas.

"Kita telah mencoba semasa COVID-19 untuk melakukan pendidikan dengan interaksi dengan Zoom dan lainnya, dan itu tidak berhasil. Kita membutuhkan ruang kelas kecil, di mana kita bisa berinteraksi dan memahami secara individu apa yang diperlukan oleh pelajar," tambahnya.

 

2. Transformasi Model Belajar di Masa Depan

NUS Business School. (Foto: Rivan Nasri Rachman/Okezone)

Meski perguruan tinggi tetap relevan, format dan model pembelajarannya dipastikan akan mengalami pergeseran besar. Pola konvensional di mana seseorang belajar secara masif selama empat tahun lantas lulus dan dilepas ke dunia kerja dinilai sudah mulai usang.

Ke depan, model pendidikan tinggi akan bertransformasi menjadi siklus belajar yang berkelanjutan dan terpecah dalam bagian-bagian kecil yang fleksibel. Mahasiswa nantinya akan belajar di kampus, terjun langsung ke industri, lalu kembali lagi untuk memperbarui keahlian mereka sesuai kebutuhan zaman.

Sebagai pakar yang juga berfokus pada keuangan berkelanjutan dan investasi global di NUS, Profesor Johan melihat bahwa adaptasi ini justru membuat institusi pendidikan semakin dibutuhkan. Perguruan tinggi tidak sekadar mentransfer ilmu teoretis, melainkan membangun kapasitas adaptif yang tidak bisa sepenuhnya diambil alih oleh otomatisasi robot.

Lonjakan teknologi robotik dan AI di masa depan memang diprediksi bakal mengubah lanskap pekerjaan secara drastis dalam satu dekade ke depan. Namun, ruang perjumpaan antarmanusia di lingkungan akademik justru menjadi fondasi penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia yang matang dan berdaya saing.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya