SINGAPURA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robotik yang masif kerap memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Salah satu pertanyaan terbesar yang sering mencuat adalah apakah kehadiran teknologi canggih ini pada akhirnya bakal membuat sistem pendidikan, khususnya perguruan tinggi, menjadi tidak lagi relevan atau diperlukan.
Profesor Johan Sulaeman, akademisi terkemuka dari Department of Finance, NUS Business School, sekaligus Director Sustainable and Green Finance Institute (SGFIN) National University of Singapore (NUS), memberikan pandangan tegas terkait isu tersebut. Ia meyakini bahwa institusi pendidikan tinggi tetap akan memegang peranan krusial dan tidak akan tergantikan oleh mesin.
"Apakah pendidikan yang lebih tinggi akan menjadi tidak relevan? Saya tidak mengira begitu. Saya pikir pendidikan adalah media yang sangat interpersonal yang menghantar, atau memberikan pendidikan," ujar Profesor Johan kepada Okezone di Singapura, Rabu (7/10/2026).
Profesor Johan juga mengenang kembali pembelajaran empiris yang didapat saat dunia dilanda pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu. Percobaan pengajaran jarak jauh secara penuh terbukti tidak mampu sepenuhnya menggantikan kehadiran fisik di dalam kelas.
"Kita telah mencoba semasa COVID-19 untuk melakukan pendidikan dengan interaksi dengan Zoom dan lainnya, dan itu tidak berhasil. Kita membutuhkan ruang kelas kecil, di mana kita bisa berinteraksi dan memahami secara individu apa yang diperlukan oleh pelajar," tambahnya.