Ia mengatakan persoalan kehutanan membutuhkan kontribusi dari berbagai bidang. Karena itu, mahasiswa kehutanan dinilai perlu memiliki pemahaman yang tidak berhenti pada aspek ekologi, tetapi juga mencakup industri, rantai pasok, sertifikasi, dan pemanfaatan hasil hutan.
Dalam diskusi tersebut, Mohamad Miftah Rahman membuka pembahasan melalui perspektif akademik, riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Pembahasan kemudian diperluas pada praktik responsible forest management, sertifikasi, serta bagaimana pengelolaan hasil hutan diteruskan dalam rantai pasok hingga menjadi produk yang digunakan masyarakat.
Indra Setia Dewi menjelaskan bahwa pengelolaan hutan yang bertanggung jawab berkaitan dengan sejumlah aspek, mulai dari lingkungan, sosial, hingga ekonomi. Sementara Thomas Hidayat Kurniawan membahas sertifikasi FSC, traceability, dan supply chain sebagai bagian dari pengelolaan hasil hutan.
Bagi mahasiswa, pembahasan tersebut memberikan gambaran mengenai ruang kerja dan persoalan yang dapat mereka hadapi setelah memasuki dunia profesional. Ilmu kehutanan tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan, tetapi juga dapat bersinggungan dengan penelitian, industri, sertifikasi, hingga pengelolaan rantai pasok.
Kegiatan di IPB University tersebut merupakan bagian dari rangkaian FSC Forest Week 2026 di Indonesia yang melibatkan FSC Indonesia, IPB University, Tetra Pak Indonesia, IRCOMM Group, dan MK Academy.
CEO IRCOMM Group Isra Ruddin mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk mempertemukan mahasiswa dengan berbagai perspektif mengenai kehutanan.