Sejarah Gunung Anak Krakatau: Lahir dari Letusan Dahsyat 1883 hingga Tragedi Tsunami 2018

Djanti Virantika, Jurnalis
Senin 07 September 2026 17:07 WIB
Gunung Anak Krakatau. (Foto: Freepik)
Share :

3. Tragedi Tsunami 22 Desember 2018

Ancaman tersebut terbukti pada 22 Desember 2018. Saat Anak Krakatau sedang mengalami aktivitas erupsi, sebagian tubuh gunung mengalami longsoran ke laut. Pergerakan material vulkanik dalam jumlah besar tersebut kemudian memicu tsunami.

Gelombang tsunami menghantam sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung pada malam hari. Bencana tersebut menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya mengalami luka-luka maupun kehilangan tempat tinggal.

Salah satu hal yang membuat tragedi ini begitu mematikan adalah tsunami terjadi tanpa didahului gempa tektonik besar yang biasanya menjadi tanda bagi masyarakat di wilayah pesisir. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu contoh penting mengenai bahaya tsunami yang dipicu aktivitas gunung api.

4. Anak Krakatau Tetap Menjadi Gunung Api Aktif

Setelah tragedi 2018, aktivitas Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif. Kawasan tersebut memiliki potensi bahaya berupa erupsi, lontaran material vulkanik, lava, abu, gas vulkanik, hingga kemungkinan longsoran material ke laut.

Status aktivitas gunung api dapat berubah berdasarkan hasil pemantauan kegempaan, visual, maupun parameter vulkanik lainnya. Karena itu, masyarakat di sekitar Selat Sunda perlu selalu memperhatikan informasi terbaru dari lembaga resmi dan mematuhi batas aman yang ditetapkan ketika aktivitas gunung meningkat.

Kini, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik pada September 2026. Erupsi signifikan tercatat mulai Jumat, 4 September 2026 malam, ketika pancaran lava atau lava fountain teramati sekitar pukul 23.07 WIB.

Aktivitas kemudian kembali tercatat sebagai erupsi menerus pada 5 September 2026. Kondisi tersebut membuat masyarakat kembali mengingat sejarah panjang Krakatau, terutama letusan 1883 dan tragedi tsunami 2018.

Abu vulkanik menjadi salah satu dampak yang perlu diperhatikan ketika aktivitas erupsi meningkat. Masyarakat di wilayah yang terdampak abu perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai apabila harus beraktivitas di luar.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya