JAKARTA - INAYES kembali mengunjungi institusi pendidikan, memberikan tambahan literasi bagi siswa, dalam webinar bertema “Etika Bersosial Media dan Adiksi Game Online.”
Ketua Formatur DPW INAYES Jawa Timur, Ahmad Fuad Rahman menekankan pentingnya untuk menjaga etika saat bermain media sosial.
Meskipun memiliki banyak manfaat seperti untuk memperluas jaringan, isi media sosial sifatnya tidak terbatas, hal-hal baik sampai yang paling buruk berada di dalamnya.
“Apa yang kita keluarkan sama seperti apa yang kita masukan, itu sama seperti bermedia sosial.” ucap Ketua Formatur DPW INAYES.
“Ayo bijak dalam bermedia sosial dan menggunakan kecanggihan teknologi, jangan sampai platform media sosial kita dicemari.” lanjutnya.
Dengan adanya generasi muda yang terus lahir, Ketua Formatur yang juga Sekretaris Komisi DPRD Malang itu mengharapkan siswa-siswi dapat menjadi bagian pengusung Indonesia menjadi “The Great Nation” karena potensi muda yang luar biasa.
Di sisi lain, adanya media sosial membuat candu dan membuat banyak orang dapat bermasalah dalam penggunaannya.
Ditampilkan data riset Kominfo pada tahun 2020, hamper 60% orang Indonesia terpapar hoax saat mengakses internet.
Sangat memprihatinkan Ketika dalam gadget masyarakat Indonesia dipenuhi dengan algoritma berita hoaks.
“Ini menjadi catatatn, jika generasi muda saat ini harus bisa membedakan mana informasi yang benar dan tidak.” ungkap Dedi Helsyanto, Koordinator LPI yang juga memiliki profesi sebagai fake checker.
“Ini sangat berbahaya, karena hoax bisa dibuat persis seperti fakta. Bahkan, riset menunjukkan masyarakat kita 51% cuek terhadap hoak dan 44% lagi sulit mendeteksi hoax.” lanjutnya, di hadapan peserta INAYES Goes to School yang digelar di Aula SMAN 72 Jakarta.
Dalam paparannya, ia memberikan tips cara membedakan mana informasi hoax dan benar dengan contoh yang paling mudah dan menggambarkan bahwa saat ini dunia digital memerlukan generasi muda untuk membersihkan hoaks, karena audience dalam media sosial lebih banyak dihuni oleh generasi millennial dan zillenial.
Di ujung penjelasan, dijelaskan bahwa berita palsu memiliki 3 jenis. Malinformasi yaitu berita yang disebarkan itu benar namun diprovokasi untuk menciptakan suatu hasutan kebencian.
Misinformasi yaitu berita yang tidak sengaja atau informasi salah yang dipercaya oleh masyarakat namun dilakukan untuk tujuan baik alias tak ada maksud untuk membahayakan orang lain.
Disinformasi, berita yang sengaja disebarkan meskipun penyebar tahu informasi yang disebarkan tersebut tidak benar.
Dalam kegiatan INAYES Goes to School ini juga dihadiri oleh, Wanita muda Bernama Offie Dwi Natalia yang berprofesi sebagai psikolog pendidikan juga Ketua Departemen Perlindungan Anak INAYES.
Sebagai pembicara diakhir, ia memaparkan bagaimana seorang manusia dapat memiliki kecanduan bermain media sosial secara faktor psikologis.
Suasana acara webinar tersebut sangat hidup dan meriah, terlebih terdapat sosialisasi aplikasi anti hoaks oleh tim BuddyKu juga kuis pertanyaan seru kepada siswa-siswi SMAN 72 Jakarta, dan memberikan uang tunai sebesar 500 ribu rupiah kepada 2 orang pemenang.
(Natalia Bulan)