Di sisi lain, adanya media sosial membuat candu dan membuat banyak orang dapat bermasalah dalam penggunaannya.
Ditampilkan data riset Kominfo pada tahun 2020, hamper 60% orang Indonesia terpapar hoax saat mengakses internet.
Sangat memprihatinkan Ketika dalam gadget masyarakat Indonesia dipenuhi dengan algoritma berita hoaks.
“Ini menjadi catatatn, jika generasi muda saat ini harus bisa membedakan mana informasi yang benar dan tidak.” ungkap Dedi Helsyanto, Koordinator LPI yang juga memiliki profesi sebagai fake checker.
“Ini sangat berbahaya, karena hoax bisa dibuat persis seperti fakta. Bahkan, riset menunjukkan masyarakat kita 51% cuek terhadap hoak dan 44% lagi sulit mendeteksi hoax.” lanjutnya, di hadapan peserta INAYES Goes to School yang digelar di Aula SMAN 72 Jakarta.
Dalam paparannya, ia memberikan tips cara membedakan mana informasi hoax dan benar dengan contoh yang paling mudah dan menggambarkan bahwa saat ini dunia digital memerlukan generasi muda untuk membersihkan hoaks, karena audience dalam media sosial lebih banyak dihuni oleh generasi millennial dan zillenial.
Di ujung penjelasan, dijelaskan bahwa berita palsu memiliki 3 jenis. Malinformasi yaitu berita yang disebarkan itu benar namun diprovokasi untuk menciptakan suatu hasutan kebencian.
Misinformasi yaitu berita yang tidak sengaja atau informasi salah yang dipercaya oleh masyarakat namun dilakukan untuk tujuan baik alias tak ada maksud untuk membahayakan orang lain.