JAKARTA - The Alchemist (Sang Alkemis) adalah buku yang ditulis oleh Paulo Coelho, seorang pria berkebangsaan Brasil yang lahir pada tahun 1947.
Novel yang ditulis oleh Coelho mengkisahkan seorang anak muda penggembala yang rela meninggalkan rumah, domba, dan cinta, serta kenyamanan untuk mewujudkan impiannya.
Tentang perjuangan dan perjalanan yang dianggap sebagai kisah yang dapat merubah arah hidup manusia.
Pria berkebangsaan brasil ini menuliskan cerita dengan alur yang tak mudah ditebak lembar demi lembarnya, dan membuat sebagian pembaca semakin terpancing untuk terus membaca hingga selesai.
Dengan pengalaman menulisnya, Paulo Coelho meramu tulisannya dengan mempertanyakan segala hal dalam perjalanan seorang manusia melalui sudut pandang anak gambala.
Paulo Coelho memulai kisah dengan seorang anak gembala bernama Santiago, yang memiliki harta benda yang cukup, namun dia selalu memikirkan pertanyaan tentang mimpinya yang selalu muncul di kepalanya.
Dimulai dengan latar tempat gereja yang terbengkalai di Andalusia, Santiago bersama domba gembalaannya bersiap untuk istirahat di bawah pohon Sycamore, tempat sakristi gereja itu pernah berdiri.
Di tempat yang sama dan dengan mimpi yang sama, ketika Santiago beristirahat dalam perjalanan penggembalaannya melewati padang rumput pada tahun sebelumnya, gereja terbengkalai beratapkan langit tersebut.
Sebuah mimpi yang merayapi pikiran Santiago, yang sampai akhirnya dia terpaksa menemui wanita gipsi untuk mengartikan mimpinya.
Mimpi yang mampu merubah arah hidup Santiago dan merelakan semua kenyamanan yang ia punya.
Dengan memakai sudut pandang orang pertama, buku ini menceritakan bagaimana seorang Santiago mempelajari banyak hal dalam perjalanan kehidupannya yang selama ini ia rasa lebih banyak berkomunikasi melalui domba-dombanya saja.
Dalam perjalananya, Santiago bertemu dengan seorang raja tua bernama Melchizedek yang akan memberitahu cara untuk mencapai impiannya namun dengan syarat harus memberikan seluruh domba-dombanya untuk ditukar demi mendapatkan harta karunnya, pria yang ternyata seorang raja itu, juga memberikan nasihat serta memberikan dua batu yang akan membantu Santiago menentukan arah takdirnya.
Paulo Coelho menuliskan kisah ini menjadi tulisan yang sangat menarik dan ringan untuk dibaca
Bagaimana tidak, Coelho yang menceritakan dengan bahasa yang sederhana namun tidak melupakan makna yang mendalam dari kehidupan, dan diluar dari itu, juga tidak melupakan bahwa penerjemah terbitan Indonesia ini sudah cukup bagus dalam pemilihan katanya, bahkan sampai tak menduga bahwa buku ini hasil terjemahan.
Dalam hal demikian, buku yang terbit tahun 1988 ini masih relevan diera generasi milenial yang menginjak masa peralihan remaja kedewasanya.
Sebuah cerita tentang bagaimana mencapai takdir tujuan hidup, merasakan adanya tanda-tanda yang datang di perjalanan dalam mencapai tujuan tersebut, juga memberi tahukan bahasa tertua didunia yang lebih tua dari sebelum manusia diciptakan.
Sebuah bahasa dunia yang faktor terpentingnya adalah dengan keberanian.
Pada umur yang tergolong masih muda, Santiago berani untuk melawan semua kenyamanan yang ada di dirinya.
Meninggalkan domba-domba yang sangat membutuhkan dia yang terbiasa untuk digembalakan, meninggalkan kampung halamannya untuk sesuatu hal yang belum pasti, juga menggalkan harapan cintanya untuk seorang wanita anak saudagar kain yang mengisi pikirannya selama setahun terakhir sejak bertemu dengannya pertama kali.
Dengan tekad kuatnya mewujudkan mimpinya, dia menukar semua domba-dombanya kepada Melchizedek untuk perjalanannya menuju piramida-piramida tempat harta karunnya tersembunyi.
Pada perjalanannya, tepatnya dua jam setelah dia meninggalkan kota tercintanya, Santiago harus menerima kenyataan bahwa dia telah ditipu hingga seluruh hartanya habis tak tersisa, yang tinggal hanyalah dua batu pemberian raja tua itu, urim dan tumim.
Namun keadaan seperti itu, tak menyurutkannya untuk melanjutkan perjalananya. Sebuah nasehat yang selalu ia ingat dari pria tua itu, bahwa setiap orang yang menginginkan dan mengharapkan takdirnya, seisi jagat raya akan berusaha membantu orang yang sedang mengejar takdirnya.
Bukanlah sesuatu yang mudah bagi Santiago, tapi memang benar adanya bahwa seisi jagat raya membantunya untuk menemukan arah tujuannya.
Santiago mencoba membaca tanda-tanda yang ada disekitarnya melalui bantuan batu pemberian raja tua itu, dan Santiago berhasil membaca tanda-tanda sekitarnya hingga ia bertemu dengan pedagang gelas kristal, yang nantinya di tempat itu akan ada pengalaman menarik yang merubah pola pikirnya.
Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, Santiago memberikan perubahan besar pada toko gelas kristal itu selama hampir setahun berkerja di toko tersebut.
Sebuah perubahan besar di toko tersebut yang awalnya akan gulung tikar, namun dengan kelihaian Santiago membaca tanda-tanda, menjadikan toko itu kian hari semakin ramai oleh pengunjung dari segala penjuru negeri.
Hampir satu tahun Santiago berkerja dengan baik, dengan bekal hasil dia berkerja yang dia kumpulkan yang terbilang cukup, Santiago lagi-lagi mengalami dilema, apakah dia harus melanjutkan perjalanannya atau kembali ketempat asalnya, menggembalakan domba-dombanya dan menikah dengan anak saudagar kain.
Dengan gejolak yang ada didiri si tokoh utama, keputus asaan yang terjadi pada dirinya, sekali lagi Coelho berhasil membuat pembaca tak menduganya.
Sebuah alur yang membiarkan pembaca berpendapat sesukanya untuk memaknai cerita itu akan seperti apa, barulah diakhir Coelho menjelaskan secara tersirat melalui percakapan dua tokoh dimana pembaca seakan terbawa dalam dialog tersebut.
Santiago yang pada akhirnya memilih tanda-tanda yang ada disekitarnya, dengan seisi jagat raya yang membantunya diperjalanan dalam mencapai takdirnya.
Pada perjalanan berminggu-minggu melewati lautan padang pasir, melewati sebuah pertempuran antarsuku hingga kembali kehilangan seluruh harta bendanya, hinggan bertemu dengan Sang Alkemis yang akan mengajari bahasa dunia kepada Santiago.
Pada buku ini (Sang Alkemis) menjabarkan banyak hal-hal kecil yang sering dilupakan oleh manusia.
Seperti, keteguhan hati dalam proses perjalanan yang terkadang keburukan yang datang adalah cara seisi jagat raya dalam membantu proses kehidupan.
Juga tentang alam semesta yang mengajarkan bahasa universal, yaitu bahasa tertua didunia yang memberitahukan bahwa seluruh isi jagat raya saling terhubung untuk keberlangsungan seluruh makhluk bumi.
Kendati demikian, buku ini tidak terlalu menjelaskan secara detail tokoh-tokoh dalam ceritanya.
Pada pandangan lain, pembaca serasa diperintah oleh kenyataan masing-masing hidup si pembaca. Karena keadaan posisi pembaca yang seakan diajak untuk terus berpikir, kisah ini seperti mengajarkan orang-orang bahwa pola kehidupan haruslah seperti ini dan pastilah akan seperti yang ada dibuku tersebut.
Untuk buku yang terjual lebih dari 10 juta copy dan diterjemahkan hingga 50 lebih bahasa diseluruh dunia membuat buku yang satu ini selalu menjadi menarik dihati para pembacanya.
Namun untuk buku sekelas ini, dengan desain sampul yang diterbitkan di Indonesia terkesan kurang menarik dan menurut pribadi, menjadikan buku ini bisa saja menjadi urutan terkahir yang akan dibaca oleh orang-orang yang akan membacanya jika dengan sampul yang seperti itu
Muhammad Faiz Ramadhan adalah aktivis Pers Mahasiswa dari Universitas Islam Riau
(Natalia Bulan)