Meski waktu itu nama Indonesia belum muncul, tapi cita-cita tersebut menjadi pembahasan di negeri Belanda. Hatta menulis, pada 1923, ia bertemu dengan Douwes Dekker dan menyebut kata Indonesia sebagai cerminan golongan primitif.
Sementara Tirto, lanjut Pramoedya, meneruskan garis perjuangnya melalui Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada 1909. Adapun landasan organisasi tersebut ia namai "Kaum Mardika", terjemahan dari Bahasa Belanda "Vrije Burgers.
"Kaum mardika ialah mereka yang mendapatkan penghidupan bukan dari pengabdian kepada Gubermen (pemerintah kolonial) seperti petani, pedagang, pekerja," tulis Pram.
(Angkasa Yudhistira)