Ia menambahkan organisasi mahasiswa juga penting sebagai sarana bergaul untuk mengenal satu sama lain bahkan begitu ketika mahasiswa selesai menjalani pendidikan dan bergabung di tengah-tengah masyarakat mereka sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang berbeda baik berbeda secara pemikiran maupun keyakinan.
Baca juga: Menag Terbitkan Pedoman Peringatan Hari Besar Keagamaan saat Pandemi, Berikut Paparannya
"Dengan organisasi kemahasiswaan keagamaan kita bisa memupuk keimanan atas agama yang kita yakini. Kita harus meyakini bahwa orang lain juga memiliki keyakinan dan keimanan yang mungkin berbeda dengan kita dan dia berpegang kuat juga keyakinan dan keimanan mereka. Harus saling memahami atau kita punya hak masing-masing, tapi hak kita dibatasi dengan hak orang lain termasuk hak dalam keyakinan dalam beragama dan seterusnya,"imbuhnya.
"Sifat-sifat ini saya kira bisa ditempa dan dikembangkan dalam organisasi kemahasiswaan yang berbasis agama. Dengan demikian ketika mereka lepas dari dunia pendidikan ini, para aktivis organisasi keagamaan siswa saat bertemu dengan masyarakat tidak ada lagi kecurigaan antara dengan satu yang lain, perbedaan menjadi sangat biasa dan bahkan disyukuri,"paparnya.
(Susi Susanti)