Leuser kaya dengan hutan primer yang menjadi habitat satwa langka, namun sayangnya luasan hutan itu dengan cepat tergerus akibat alih fungsi lahan menjadi ladang warga, perkebunan sawit atau pertambangan.
Menurut dia, kerusakan yang terjadi di Leuser sangat drastis sejak pertama kali masuk ke hutan pada 1993.
"Orangutan itu hampir 50 persen hilang, akibat lahannya tergangggu, kehidupannya terancam, ada yang menangkap dan ada yang membunuh. Kalau harimau pada 90-an jumlahnya mencapai 500-an, tapi sekarang ini sudah sangat rentan," ungkap Ibrahim.
"Bahkan rangkong gading itu pun sudah sulit kita mendengar suaranya pun. Jangankan melihat. Kalau dulu setiap kita pergi pinggir ladang saja pasti kedengaran suaranya. Sekarang sudah susah untuk dengar suara saja," katanya.
"Suara burung lainnya juga seperti murai batu, biasanya di pinggir ladang kita banyak murai baru, paginya berkicau kita dengar, sekarang sudah tak ada lagi."
Ditanyakan mengenai apa yang bisa dilakukan untuk memperlambat kerusakan di Leuser, Ibrahim menjawab, "Kalau pemerintah bisa fokus untuk memerhatikan kesejahteraan masyarakat, bisa memberikan pekerjaan lain, dan kemudian buatlah aturan yang jelas."
Di kamp terdapat buku LIPI 'Seri Panduan Lapangan: Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan'. Di nomor 595 memang ada tercetak "Tepus merbah sampah".
"Burungnya warna punggungnya coklat tua, dagunya abu-abu. Bagian bawahnya agak kuning pucat. Dia sukanya di semak-semak, di tempat rendahan," kata Ibrahim menerangkan karakteristik burung yang tidak tertulis di buku itu.
Tampaknya gelar "profesor" tidak resmi memang layak diberikan ke Ibrahim. Sebab bagaimanapun, ilmu bukan hanya diukur dengan secarik kertas dan waktu yang dihabiskan di institusi pendidikan.
Ibrahim pun berharap Leuser dapat dipertahankan sebagai hutan primer terbaik di Asia yang penting bagi kemaslahatan dunia.
(Hantoro)