Sementara seluruh siswa Auliya yang berjumlah sekira 1.000-an siswa bersiap melaksanakan ujian sekolah dan UN. Meski tahun ini UN terakhir, namun keseriusan tetap dipupuk bagi semua siswa, terutama kalangan SMA yang sebentar lagi memulai tahapan UN.
"Para siswa, orang tua siswa, lebih antusias menyiapkan diri di tahun ajaran berikutnya, tidak lagi belajar seperti tahun-tahun sebelumnya melalui UN. Kata Merdeka Belajar itu bermakna para siswa lebih merdeka untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya masing-masing. Mereka punya kemerdekaan untuk itu," ucap Triwisaksana, Ketua Yayasan Auliya Insan Utama.
Baca Juga: Kampus Merdeka Nadiem Makarim, Rektor UGM: Banyak Harus Dibenahi
Menurut dia, para siswa terlihat lega menyambut dihapusnya UN. Tak ada lagi standarisasi nilai mata pelajara, karena penilaian itu diserahkan ke pihak sekolah. Baik dalam bentuk ujian praktek, karya tulis, portofolio, dan sebagainya. Demikian pula untuk syarat kelulusan yang lebih mengacu pada konteks kompetensi, karakter, dan skill.
"Semua dikembalikn ke sekolah, jadi tidak ada ranking kelas. Karena kalau ranking itu bagi yang juara pertama tentu bangga, lalu bagaimana dengan psikologis siswa yang juara 30? tentu penilaiannya tidak bisa disamaratakan seperti itu, karena masing-masing siswa punya potensi berbeda," tandasnya.
(Fiddy Anggriawan )